Page Detail

RG Linguistik Jawa Prodi Sastra Daerah FIB UNS Lakukan Pelatihan Bahasa yang Baik dan Benar

RG Linguistik Jawa Prodi Sastra Daerah FIB UNS Lakukan Pelatihan Bahasa yang Baik dan Benar

Berangkat dari pemikiran bahwa pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa sebagai bahasa Ibu, yang pemakainya sangat banyak di era milennial ini cenderung kurang diminati generasi muda sebagai penerus bangsa, Reseach Group (RG) Linguistik Jawa Program Studi (prodi) Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Pelatihan Bahasa Jawa yang Baik dan Benar terhadap Tokoh Masyarakat di Jaten, Karanganyar pada Minggu pagi (11/06/2023).

 Kegiatan kali ini dilaksanakan di Balai Desa Jaten, adapun peserta terdiri dari tokoh masyarakat, ketua RT RW, anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan praktisi bahasa di daerah tersebut. Dr. Supana, M.Hum selaku Ketua RG membeberkan  tujuan kegiatan ini digelar untuk memberikan pemahaman penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar.

“Penggunaannya (bahasa Jawa) di masyarakat baik bahasa tulis maupun lisan banyak terdapat kesalahan dalam hal penulisan ejaan, salah pengucapan, dan pemilihan diksi tingkat tutur yang kurang tepat. Penulisan-penulisan dalam surat lelayu, transliterasi lagu-lagu campursari dan teks-teks pidato berbahasa Jawa dalam upacara adat masih perlu kecermatan dan ketelitian agar sesuai dengan Ejaan Bahasa Jawa Yang Disempurnakan (EYD)” beber Dr. Supana.

Prof. Dr. Sumarlam, M.S., Dr. Supana, M.Hum., Drs. Sutarjo, M.Hum., dan Dr. Prasetya Wisnu  Wibowo, M.Hum. hadir sebagai narasumber. Sutarjo membuka diskusi dengan pemaham bahasa yang baik dan benar dalam upacara daur hidup adat Jawa, dapat berupa  bahasa tulis dan bahasa lisan. Prof. Sumarlam dalam pembahasannya memaparkan contoh penggunaan bahasa Jawa yang kurang tepat.

“Sering diproduksi oleh penutur atau penulis, kalimat-kalimat yang tidak jelas subjeknya, terutama subjek yg diawali oleh preposisi atau frasa preposisional, seperti dhumateng para tamu kasuwun sabar sawatawis. Kalimat tersebut tidak jelas subjeknya karena didahului oleh preposisi. Kalimat tersebut akan menjadi benar jika tanpa preposisi, lalu menjadi para tamu kasuwun sabar sawatawis. Atau, tetap mempertahankan preposisi dhumateng pada awal kalimat, tetapi harus ditambahkan subjek, seperti dhumateng para tamu, panjenengan kasuwun sabar sawatawis” papar Prof. Sumarlam.

Akhir kegiatan Prof. Sumarlam memberikan beberapa harapan serta upaya untuk menjaga melestarikan dan mengembangkan bahasa, sastra, aksara, dan budaya Jawa di tengah-tengah gempuran budaya global. “Perlu terus-menerus diupayakan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan pelindungan, pengembangan, dan pembinaan bahasa, sastra, aksara, dan budaya Jawa secara terstruktur dan masif dengan melibatkan para pakar dan praktisi serta campur tangan pemerintah daerah dalam menanganinya sehingga bahasa, sastra, aksara, dan budaya Jawa benar-benar menjadi jati diri bagi pemiliknya” pungkasnya (Gar/Rensi)