Prodi Sastra Indonesia FIB UNS Gelar Lokakarya Peninjauan Kurikulum
Fokus untuk menyiapkan lulusan yang kompeten dan menciptakan kurikulum yang relevan serta adaptif, Program Studi (prodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Lokakarya Peninjauan Kurikulum. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa (10/2/2026) pagi di Ruang Seminar FIB UNS.
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. Maman Suryaman, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta, Suut Amdani, S. Si dari Tribunnews Solo, dan Felicia Yohana Kusuma, S.S. merupakan alumni Prodi Sastra Indonesia FIB UNS dan konten kreator. Lokakarya ini dimoderatori oleh Bagus Kurniawan, S.S., M.A., dosen Prodi Sastra Indonesia FIB UNS.
Prof. Dr. Maman Suryaman, M.Pd. sebagai narasumber pertama membuka pemaparan dengan menyampaikan tentang inovasi yang harus dilakukan untuk kurikulum. “Inovasi yang harus dilakukan adalah mengembangkan bentuk-bentuk pembelajaran yang relevan agar struktur kurikulum tetap ramping dan waktu tempuh kurikulum di dalam kisaran delapan semester serta memungkinkan pembelajar memiliki hardskill dan softskill untuk masa kini dan masa depannya serta mampu mendorong belajar sepanjang hayat,” paparnya.

Sementara itu Suut Amdani, S. Si sebagai narasumber kedua menjelaskan materi presentasinya yang bertajuk Pers di Persimpangan Disrubsi Digital. Manajer konten Tribunnews.com tersebut memaparkan bahwa disrupsi digital adalah perubahan mendasar dalam ekosistem media akibat perkembangan teknologi digital, terutama internet, media sosial, dan kecerdasan buatan, yang mengubah cara produksi, distribusi, konsumsi, dan monetisasi berita.
Sesi pemaparan ditutup oleh Felicia dengan memberikan gambaran tentang kesesuaian bidang kebahasaan dan kesastraan dengan dunia industri. Putri Lawu 2024 tersebut menceritakan bahwa mendapatkan bekal kebahasan secara lisan dan tertulis dari Prodi Sastra Indonesia FIB UNS.
“Saat menjadi mahasiswa Sastra Indonesia, saya dibekali kemampuan berbahasa lisan dan tulis secara efektif, kemampuan menganalisis teks dan konteks, serta kepekaan terhadap audiens dan budaya. Selama ini, Sastra Indonesia sering dipersepsikan sebagai bidang yang terbatas pada dunia akademik. Padahal, jika ditinjau dari kompetensi yang dimiliki, Sastra Indonesia justru sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini khususnya, sebagai alat komunikasi sosial, persuasi, dan alat pembentuk makna,” ungkapnya.
Melalui Lokakarya Peninjauan Kurikulum ini, FIB UNS berupaya secara nyata mendukung pencapaian terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4 pendidikan berkualitas, harapannya kurikulum dapat disesuaikan dengan perkembangan industry dan menciptakan lulusan siap menerjang tantangan dalam duni industri. (Humas/ WD II FIB UNS)