Menteri Kebudayaan RI Ajak Bangun Peradaban Melalui Ilmu Sosial dalam Seminar Nasional HIPIIS
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) berkesempatan melakukan kolaborasi dengan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) menggelar Seminar Nasional bertajuk Peranan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Membangun Negara yang Berkeadilan dan Berkeadaban Berbasis Budaya. Seminar ini dilaksanakan pada Rabu (23/9/2029) di Auditorium G.P.H Haryo Mataram UNS, dengan mengundang Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (RI) sekaligus Ketua Umum HIPIIS, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, M.Sc., sebagai keynote speech.
Selain Menteri Kebudayaan RI, hadir juga Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Penasihat Presiden, Prof. Dr. Wasino, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Dr. Falih Suaedi, Guru Besar Universitas Airlangga (UNAIR), dan Lukman Hakim, Ph.D., Akademisi UNS sebagai narasumber dalam kegiatan kali ini.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Waskito Widi Wardojo, S.S., M.A., dilanjutkan sambutan Rektor UNS yang diwakili Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Informasi, Prof. Irwan Trinugroho, SE., M.Sc., Ph.D, serta pembukaan secara resmi oleh Ketua Harian HIPIIS, Dr. M. Alfan Alfian, M.Si.
Melalui paparannya, Prof. Fadli Zon menegaskan perjalanan dan posisi HIPIIS sebagai organisasi yang sejak awal berkomitmen terhadap perkembangan ilmu-ilmu sosial sekaligus memberikan kontribusi pemikiran kepada pemerintah.
“Sejak awal berdiri organisasi ini, HIPIIS secara konsisten berupaya memajukan ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Sebagai mitra pemerintah, HIPIIS aktif memberikan masukan dan saran berharga terutama terkait perspektif ilmu sosial agar kebijakan-kebijakan pemerintah senantiasa selaras dengan kondisi Indonesia yang majemuk,” ujar Prof. Fadli Zon.
Prof. Fadli Zon juga menambahkan bahwa kita harus mencontohkan Borobudur sebagai salah satu bukti pencapaian peradaban Nusantara yang tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga merekam kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada masanya. “Kita perlu berani melihat sejarah dan peradaban dari perspektif Indonesia. Jangan sampai kita hanya menerima narasi yang dibangun berdasarkan perspektif Barat. Kita perlu memperkuat cara pandang yang berangkat dari temuan-temuan dan kekayaan intelektual kita sendiri, atau yang dapat disebut sebagai perspektif Indonesia-sentris,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan, para narasumber membabarkan tentang perspektif masing-masing mengenai peran ilmu-ilmu sosial dalam membaca perubahan masyarakat, memperkuat tata kelola kehidupan berbangsa, serta mendorong pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan material, tetapi juga menempatkan keadilan, keadaban, dan kebudayaan sebagai fondasi penting kehidupan bernegara.
Pembicara kunci berikutnya, Prof. Muhadjir Effendy, menekankan bahwa para peneliti ilmu sosial harus membanjiri bangsa dengan karya ataupun konten yang membangun. “Hidup dunia ini dibangun dengan cerita, siapa yang dapat membangun cerita dan menulisnya dengan baik dia akan mampu membangun kontruksi peradaban. Karena itu ceritakan sesuatu yang membangun dan tulislah kemegahan bangsa,” paparnya.
Kehadiran para ilmuwan dan akademisi tersebut sejalan dengan tujuan Seminar Nasional HIPIIS, yakni menyediakan ruang dialektika akademik bagi ilmuwan, pengurus organisasi, dan mahasiswa untuk memberikan sumbangsih pemikiran terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Seminar juga diarahkan untuk menghasilkan gagasan dan rekomendasi strategis yang berpijak pada perspektif ilmu-ilmu sosial dan nilai budaya Indonesia.
Di sela-sela rangkaian kegiatan seminar nasional, dilaksanakan pula pelantikan Pengurus Wilayah HIPIIS Jawa Tengah dan HIPIIS Jawa Timur oleh Ketua Umum HIPIIS, Prof. Fadli Zon. Pelantikan pengurus wilayah menjadi bagian penting dalam penguatan jejaring HIPIIS di daerah. Kepada para pengurus yang dilantik, Prof. Fadli Zon berpesan agar kepengurusan HIPIIS di wilayah dapat terus bergerak bersama dan memberikan kontribusi bagi kebaikan bangsa Indonesia. (Humas/ WD II FIB UNS)