Page Detail

Kolaborasi FIB dan FaPsi UNS Gelar Seminar Bahasa Mandarin dan Budaya

Kolaborasi FIB dan FaPsi UNS Gelar Seminar Bahasa Mandarin dan Budaya

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS berkolaborasi dengan Fakultas Psikologi (FaPsi) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Seminar Bahasa Mandarin dan Budaya pada Selasa (19/5/2026) pagi di Ruang Seminar FIB UNS. Seminar ini mengangkat tema tentang Bridging Cultures, Nurturing Minds: International Experiences in Chinese-Speaking Contexts. Adapun narasumber dalam kegiatan kali ini adalah Prof. Brian J. Hall, Ph.D. (New York University Sanghai, PR China), Claudia Sekar Nareswati (FaPsi UNS), Dian Prasetyo Adi, Ph.D. (Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok/Prodi BMKT FIB UNS).

Kegiatan yang dimoderatori oleh Dosen Prodi BMKT FIB UNS, Quinta Avenida, MTCSOL, ini diawali dengan sambutan dan arahan oleh Wakil Dekan Bidang Nonakademik FIB UNS, Dr. Miftah Nugroho, M.Hum.. Miftah berharap agar para peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik, karena kesempatan seperti ini tidak akan terulang. “Harapan kami semoga nanti para peserta dapat memetik pengetahuan dari para narasumber,” tuturnya.

Seminar ini dibuka oleh Ketua Prodi BMKT FIB UNS, Dr. M. Bagus Sekar Alam, S.S., M.Si. Dalam sambutannya, Bagus mengajak para peserta untuk fokus dan mengambil wawasan sebanyak mungkin tentang pemahaman bahasa dan budaya. “Tema bridging cultures atau menjembatani budaya mengingatkan kita bahwa memahami bahasa Mandarin bukan hanya tentang menghafal kosakata atau menguasai tata bahasa. Lebih dari itu, memahami bahasa Mandarin adalah tentang membuka pintu gerbang menuju pemahaman budaya yang mendalam. Dengan menjembatani perbedaan budaya, kita belajar untuk berempati, menghargai keberagaman, dan membangun kolaborasi yang kokoh di kancah internasional,” paparnya.

Setelah selesai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh narasumber. Narasumber pertama, Claudia, membagi pengalamannya tentang Dang Ki healing. “Jalur menjadi Dang Ki itu ada beberapa macam. Misalnya, dipilih oleh dewa atau kerasukan (kerasukan roh) selama festival/ritual penyembuhan, mengabdi di bawah bimbingan Dang Ki yang sudah berpengalaman, dan diwariskan secara tradisional dari orang tua ke anak,” jelasnya.

Narasumber kedua, Dian, menjabarkan tentang Code Switching dan Proses Kognitif Bilingual. Dalam materinya, Dian menyinggung bahwa penutur memerlukan waktu untuk melakukan switching dari bahasa Indonesia ke Mandarin. “Bagi seorang bilingual (atau multilingual), proses berbahasa membutuhkan kerja otak yang lebih intensif dibandingkan orang yang hanya bicara satu bahasa (monolingual),” ujarnya.

Prof. Brian sebagai narasumber terakhir menjelaskan tentang hal penting untuk adaptasi linguistik dan budaya. “Kunci utama dari adaptasi linguistik dan budaya adalah empati dan relevansi. Tujuannya adalah membuat audiens merasa bahwa konten tersebut memang dibuat khusus untuk mereka, bukan hasil terjemahan mesin yang kaku,” jelasnya.

Seminar Bahasa Mandarin dan Budaya ini menjadi salah satu bukti bahwa FIB UNS memberikan kontribusi secara nyata, terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4 pendidikan berkualitas dan SDGs 10 terkait pemahaman bahasa dan budaya asing mendukung pertukaran ilmu lintas negara dan memperkuat toleransi global. (Humas/WD II FIB UNS)