Dosen FIB UNS Turut Menulis Buku Tentang Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan peluncuran buku yang berjudul Dari Kesultanan Menjadi Daerah Istimewa: Sejarah Pemerintahan di Yogyakarta dan Historiografi Pertanahan DIY Bagian 1-Dari Hutan Menjadi Kerajaan: Yogyakarta 1755-1830. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 7 Februari 2026. Beberapa dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) turut terlibat sebagai penulis dalam kedua buku tersebut.
Kegiatan yang bertempat di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta ini dibuka oleh Putri Sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi. Dalam sambutannya, Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi berharap agar kegiatan ini dapat sebagai fondasi yang kuat dalam memahami legitimasi keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. “Kedua buku tersebut dituliskan berdasarkan sumber utama arsip dan manuskrip yang diperoleh dari National Archives of the Netherlands (NAN), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), DPAD DIY, Perpustakaan Widyo Budoyo Kraton Yogyakarta, dan lainnya,” ungkapnya.
Sementara itu dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam penulisan kedua buku ini adalah Dr. Waskito Widi Wardojo, S.S.,M.A; Dr. Harto Juwono, M.Hum, Dr. Tiwuk Kusuma Hastuti, S.S., M.Hum dari Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS, Stefanus Krisandi, S.S., M.A. dari Prodi Sastra Daerah FIB UNS, dan Monica Oktavia, S.Hum. merupakan mahasiswa S-2 Kajian Budaya FIB UNS).
Menurut Waskito Widi Wardojo, buku yang berjudul Dari Kesultanan Menjadi Daerah Istimewa: Sejarah Pemerintahan di Yogyakarta di dalamnya dituliskan tentang fokus dinamika pemerintahan Kesultanan Yogyakarta hingga menjadi status keistimewaan. “Buku ini merupakan hasil kolaborasi penulis dari ahli arsip Belanda yaitu Nico Van Horn” paparnya.
Waskito Widi Wardojo juga memberi sedikit gambaran isi dari buku yang berjudul Historiografi Pertanahan DIY Bagian 1-Dari Hutan Menjadi Kerajaan: Yogyakarta 1755-1830, yakni tentang pertanahan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bermula dari sebuah hutan, kemudian dibuka oleh Pangeran Mangkubumi hingga sekarang menjadi sebuah kerajaan (Kraton Yogyakarta).
Selain Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, dosen, dan mahasiswa FIB UNS turut hadir juga Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Restu Gunawan, M.Hum., dan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum. dalam kegiatan ini. (Humas/ WD II FIB UNS)