Dosen FBS Unnes Jalani Ujian Terbuka Promosi Doktor Prodi S-3 Kajian Budaya FIB UNS
Program Studi (prodi) S-3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Ujian Terbuka Promosi Doktor dengan promovenda Ucik Fuadhiyah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (22/01/2026) siang di Ruang Seminar FIB UNS. Pada ujian terbuka promosi doktor ini, promovenda mempertahankan disertasi yang berjudul “Seksualitas dan Erotisme dalam Puisi Jawa Modern (Geguritan) dari Tabu Menuju Terang”.
Sementara itu, tim penguji terdiri atas Dekan FIB UNS, Dr. Dwi Susanto, S.S., M.Hum., selaku ketua, penguji eksternal, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum., serta penguji internal, Prof. Dr. Sahid Teguh Widodo, Ph.D., dan Prof. Dra. Sri Kusuma Habsari, M.Hum., Ph.D. Adapun tim promotor, yaitu Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA., Ko-Promotor I Prof. Dr. Wakit Abdulah, M.Hum., dan Ko-Promotor II Prof. Dr. RM Teguh Supriyanto, M.Hum. juga turut serta menjadi tim penguji.
Disertasi Ucik mengkaji tentang sisi seksualitas dan erotisme dalam Kumpulan puisi Jawa atau antologi geguritan, yang terbit pada tiga periode kurun waktuk yang berbeda yaitu antara tahun 1940-1990, 1990-2000, dan 2000-2020. “Perbedaan kurun waktu yang dimaksud adalah masa dan budaya yang berbeda atau karya lintas generasi,” papar Ucik ketika mempertahankan desertasinya.
Ucik menyatakan bahwa penilitian ini menyoroti ekspresi atau gambaran tanda dan simbol seksualitas dan erotisme yang hadir dalam teks geguritan sebagai salah satu bentuk sastra Jawa dan produk budaya masyarakat. “Kajian ini berupaya mengungkap tanda dan simbol seksualitas dan erotisme yang diekspresikan dalam tekks geguritan. Simbol dan makna diungkap baik secara tekstual maupun kontekstual berdasarkan paradigma kritis kajian budaya,” terangnya.
Promovenda juga menyisipkan harapan pada desertasinya agar penilitiannya dapat memberikan manfaat secara praktis, dengan melahirkan pemahaman secara lebih khusus tentang konsep geguritan bukan semata sebagai bentuk karya sastra yang berupa teks bermedium bahasa indah. “Geguritan merupakan produk budaya yang lahir dan hidup di masyarakat yang secara ekspresif membentuk wacana bahkan menjadi bagian dari formasi sejarah,” tandas Ucik. (Humas/WD II FIB UNS)