Page Detail

Dikukuhkan jadi Guru Besar, Prof. Habsari Soroti Dekoonialisasi Gender di Indonesia

Dikukuhkan jadi Guru Besar, Prof. Habsari Soroti Dekoonialisasi Gender di Indonesia

Ketua Program Studi (prodi) S-3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dra. Sri Kusumo Habsari, M. Hum., Ph.D., dikukuhkan sebagai guru besar bidang gender dan kajian budaya oleh Rekor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si., pada Selasa (27/01/2026) pagi di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS.

Prof. Hartono melalui sambutannya mengatakan bahwa pencapaian gelar guru besar merupakan puncak pengakuan akademik yang tidak diraih secara instan. Gelar guru besar lahir dari perjalanan panjang melalui pengabdian kepada masyarakat, pendidikan, dan penelitian, disertai konsistensi dalam menjaga etika akademik dan integritas keilmuan.

“Oleh karena itu, pengukuhan hari ini tidak hanya bermakna personal bagi para guru besar dan keluarga, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi fakultas, universitas, serta dunia akademik Indonesia,” tandasnya.

Sementar itu melalui pidato inagurasi guru besar yang berjudul Dekolonialisasi Gender di Indonesia: Melacak Jejak Fluiditas Peran Laki-laki dan Perempuan, Prof. Habsari menegaskan bahwa Indonesia tidak pernah kekurangan sumber untuk membangun pemahaman tentang gender. “Membaca ulang warisan budaya Indonesia, kita tidak sedang mundur ke masa lalu. Namun, kita tengah menyiapkan masa depan yang lebih percaya diri, lebih adil, dan lebih berdaulat, bukan hanya dalam teori, tetapi dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia.” Paparnya.

 

Sebagai pamungkas pidatonya, Prof. Habsari mencoba memantik kita untuk memahami tentang konsep gender. “Perempuan Indonesia bukan pelengkap rumah tangga, melainkan warga negara yang berhak bekerja dan memimpin. Semoga orasi ini menjadi penyemangat bagi kita semua untuk terus merawat kemajuan bangsa yang inklusif dan bermartabat,” pungkasnya.

Dengan dikukuhkan Prof. Habsari sebagai guru besar berarti menjadikan bukti bahwa FIB UNS memberikan kontribusi secara nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGz 4 pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil. (Humas/WD II FIB UNS)