Narasi Budaya ke-11 Telaah Novel Gentayangan serta Integrasi dan Kontestasi Diaspora Sumba dalam Masyarakat Multikultural Bali
Program Studi (prodi) S-3 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menggelar Narasi Budaya Seri Ke-11 pada Jumat (24/4/2026). Kegiatan ini digelar secara daring melalui platform Zoom Meeting dengan mengusung tema diskusi Narasi Percabangan dan Postmodernisme Novel Gentayangan, Integrasi dan Kontestasi Diaspora Sumba dalam Masyarakat Multikultural di Bali.
Narasi Budaya kali ini mengundang Susilorini (Prodi S-3 Kajian Budaya FIB UNS) dan Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo (Prodi S-3 Kajian Budaya FIB UNUD) sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh 111 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan alumni dari FIB UNS serta FIB UNUD. Kegiatan dibuka oleh Prof. I Nyoman Darma Putra selaku Koprodi S-3 Kajian Budaya FIB UNUD. I Nyoman Darma Putra menyampaikan harapan agar kegiatan ini lebih sering diadakan karena dapat meningkatkan mutu pendidikan di kedua prodi.
Sebagai narasumber pertama, Susilorini mengusung materi diskusi tentang Narasi Percabangan dan Postmodernisme dalam Novel Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu karya Intan Paramaditha. Dalam paparannya, Susilorini menjelaskan bahwa struktur narasi percabangan menolak perkembangan narasi linier tunggal dan mencerminkan model rhizhomatik yang bersifat heterogen, non hirarkis, dan berkembang biak.
“Penelitian deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan hermeneutika dalam menjelaskan fenomena kesasteraan dalam novel, serta melibatkan teori fenomenologi seni untuk memahami bagaimana teks bekerja dalam membentuk pengalaman pembaca. Dari sisi tematik, Gentayangan menawarkan sebuah visi atas identitas postmodern yang terus berubah dan selalu berada dalam ruang liminal,” ungkap Susilorini.
Sementara itu narasumber kedua, Fransiska Dewi mempresentasikan materinya tentang Integrasi dan Kontestasi Diaspora Sumba dalam Masyarakat Multikultural di Bali. Fransiska Dewi menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan faktor penyebab integrasi diaspora Sumba di Bali meliputi kesamaan nilai dan identitas, kepentingan ekonomi serta solidaritas efektif, sedangkan faktor penyebab kontestasinya meliputi disparitas modal, keterbatasan ranah, dan regulasi negara.
Kegiatan ini ditutup oleh Kaprodi S-3 Kajian Budaya FIB UNS, Prof. Dra. Sri Kusumo Habsari, M.Hum., Ph.D.. Sri Kusumo Habsari menegaskan bahwa forum ini sangat penting karena dapat menjadi ruang diskusi atas pengetahuan yang dihasilkan dari proses penelitian selama studi doktoral. “Kami harap, apa yang kita lakukan dapat memperkuat posisi kajian budaya agar tetap relevan dengan kemajuan zaman,” tutupnya. (Humas/ WD II FIB UNS)