Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Daerah Pandawa FIB UNS mengadakan kegiatan PALAWA (Pandawa Labuh Jawa) di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Selasa (4/12/2018).

PALAWA merupakan kegiatan yang dilakukan oleh HMP Sastra Daerah Pandawa untuk memberikan kesempatan bagi generasi muda seperti mahasiswa Sastra Daerah untuk ikut serta dalam upaya pelestarian budaya melalui karya seni yang dikemas secara lebih modern dan menarik. Selain itu juga akan membangun karakter generasi muda untuk berani berkarya dan lebih mencintai budaya Jawa guna membangun negara dan bangsa.

Dalam kegiatan ini setidaknya ada tiga kegiatan yakni lomba typografi aksara jawa tingkat nasional, seminar nasional, yang terakhir pagelaran wayang Sandosa disertai peresmian Bedhaya Sastra Daerah.

Kegiatan yang berlangsung semalam tersebut bertujuan untuk membentuk kearifan lokal nusantara yang terkandung dalam budaya daerah sebagai salah satu langkah untuk mencari solusi permasalahan degradasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Puncak kegiatan PALAWA adalah Pagelaran Wayang Sandosa dengan mengambil lakon Satya Maruti berlatar belakang tentang kesetiaan Anoman kepada Prabu Rama dan Negara Pancawati. Satya Maruti dari kata Satya yaitu kesetiaan, Maruti bisa disebut angin atau nama lain dari Anoman. Satya Maruti menggambarkan kesetiaan kera putih yang bernama Anoman kepada Raja Pancawati, Prabu Ramawijaya. Kesetiaannya tidak bisa diungkap dengan kata-kata, Anoman menuju negara Alengka menjemput Dewi Sinta, permaisuri Ramawijaya. Segala rintangan telah dihadapi oleh Anoman, pada akhirnya Anoman bertemu dengan Dewi Sinta di Taman Soka, taman di negara Alengka. Akan tetapi Dewi Sinta tidak menginginkan dijemput oleh Anoman, Dewi Sinta ingin di jemput oleh Prabu Rama sendiri. Anoman bergegas kembali dan memiliki niat untuk merusak negara Alengka. Disaat itu, Anoman diketahui oleh prajurit Alengka dan hendak dibakar. Tidak mati tapi Anoman dengan asiknya menari dengan api lalu membakar seluruh negara Alengka. Anoman bergegas menuju Pancawati dan bertemu Prabu Rama dan diberi nama Ramadayapati. Bertindak sebagai sutradara adalah Muhammad Ilham Fajar mahasiswa Prodi Sastra Daerah angkatan 2017 dan Penata Iringan oleh Dimas Prayoga.

Sedangkan Bedhaya Sastra Daerah yang di koreograferi oleh Marsalia Rose Fajarningsih dengan nama Bedhaya Kawimataya yang di adopsi dari Bedhaya Wilwatikta, Bedhaya ini menceritakan tentang harmonisasi antara Jawa dan Bali yang setiap hari, setiap waktunya tidak akan lepas karena Sastra Jawa sendiri juga akan terus berkembang baik di daerah Jawa dan Bali. Kawimataya berasal dari kata Kawi dan Mataya. Kawi berarti Keindahan (dalam bahasa Jawa Kuna) dan Mataya berarti Tarian, sehingga bisa dikatakan Kawimataya adalah Keindahan dalam tarian klasik jawa dan bali yang dipadukan dengan kostum penari Jawa dengan Dhodhot Alit dan Penari Bali dengan kostum Legong.

Pementasa ini di hadiri kurang lebih sekitaran 200an pengunjung oleh masyarakat umum, akademisi dan penikmat seni dari berbagi wilayah di Soloraya.

Supana selaku Kaprodi Sastra Daerah mengharapkan dari kegiatan ini, “Dapat dilaksanakan secara rutin sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan budaya jawa. Pengemasan seni tradisonal dalam bentuk kreasi baru merupakan strategi memperkenalkan budaya daerah kepada generasi muda. Selain itu juga sebagai upaya penanaman nilai-nilai luhur budaya bangsa.”

%d bloggers like this: