Diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei selalu menjadi waktu yang tepat untuk menilik kembali perkembangan pendidikan di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi sekarang ini juga mempengaruhi pola pikir dalam dunia pendidikan. Kecerdasan kognitif menjadi lebih menonjol dibanding nilai-nilai moral. Fakultas Ilmu Budaya, sebagai fakultas yang mempelajari ilmu-ilmu budaya dan kepekaan rasa memiliki peran penting dalam pendidikan di Indonesia.

“Pengajaran harus berjalan beriringan dengan pendidikan,” kata Wakil Dekan bidang Akademik FIB UNS, Prof. Warto. Pengajaran bersifat mencerdaskan secara kognitif, sedangkan pendidikan memberikan pengetahuan mengenai kepekaan rasa dan nilai moral.

“Dalam konteks ini, tentu Fakultas Ilmu Budaya sangat berperan penting. Membangun sebuah peradaban dan mengembangkan kebudayaan itu tidak cukup lewat pengajaran, tapi juga lewat pendidikan. Pengajaran berkaitan dengan knowledge. Kita juga berkewajiban  mendidik yang bertujuan melatih kecerdasan spiritual, kepekaan rasa, dan menanamkan nilai-nilai peradaban”, tambah Warto.

Menurut Warto, paradigma pendidikan sekarang ini sudah berubah. FIB memiliki tugas yang cukup berat untuk menanamakan nilai-nilai moral agar bisa membawa peradaban Indonesia ke arah yang lebih baik. “Tugas FIB tidak ringan, karena di tengah-tengah perubahan zaman sekarang ini  bandul peradaban cenderung ke hal-hal yang sangat materialistis yang semuanya serba kasat mata dan bisa diukur. Nah ilmu yang kita pelajari kan abstrak, yaitu ilmu budaya. Ilmu budaya ini menanamkan nilai, nilai-nilai bagaimana peradapan indonesia dibawa ke arah yang lebih baik”, tandas Warto.

Menurut Warto, Indonesia harus fokus dengan visinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tentunya melalui sistem pengajaran dan pendidikan yang seimbang dan merata. “Harapannya tentu harus jalan dengan amanah dalam pembukaan UUD bahwa tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutupnya.

%d blogger menyukai ini: