Jin Ifrit, terperangkap di dalam botol. Nabi Sulaiman yang menjadi sang tuan tidak bisa lagi menemukan botol itu, ia hanyut di tengah lautan. Waktu itu badai menerjang, ifrit yang berada di dalam botol terhempas jauh dari istana. Sampai suatu ketika Shoyyad, seorang nelayan jujur memungutnya di tengah lautan. Shoyyad yang akan menggerakkan perahunya untuk menepi melihat botol itu dengan tatapan heran. Tanpa ragu ia menggosoknya pelan-pelan: Ifrit menemukan kebebasan kembali.

“Aku akan kabulkan permintaanmu”, tandas Ifrit sebagai bentuk ucapan terima kasih. Shoyyad yang sejak dulu menyimpan keinginan mengabdi di istana menyambutnya dengan gembira. “Pertemukan aku dengan rajamu, Sulaiman”.

Sayangnya. Shoyyad datang ke istana dalam waktu yang tidak tepat. Hubungan Sulaiman dan Bilqis tidak baik saat itu. Sang ratu yang menawan itu ternyata mencintai orang lain, tawanannya sendiri. Sulaiman tentu saja tidak terima. Sang raja tidak mau posisinya di hati ratu digantikan oleh orang lain. Konflik Sulaiman dan Bilqis yang kemudian melibatkan Ifrit pun dimulai dalam kisah Sulaiman Al Hakim.

Malam itu, Rabu (23/12) Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah berhasil disulap dengan apik oleh Kelompok Kerja Taeter Oase, Program Studi Sastra Arab UNS menjadi sangat timur-tengah. Teater yang berada dalam lingkup HMJ Qisar ini memang khusus menyajikan tontonan yang di adaptasi dari wilayah negeri padang pasir itu.

Pukul 20.00 WIB pertunjukan dimulai. Penonton penuh mengisi bangku-bangku tribun. Antusiasme yang tinggi tidak hanya datang dari mahasiswa Sastra Arab, namun kegiatan ini juga diapresiasi oleh Ketua Program Studi, dosen, dan bidang kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya. Dalam sambutannya, Drs. Supardjo, M.Hum menyampaikan bahwa mengasah softskill lewat kegiatan non akademik tidak kalah penting dengan belajar di kelas. “Kegiatan seperti teater, dan UKM di tingkat fakultas akan didukung sepenuhnya oleh bidang kemahasiswaan agar potensi yang dimiliki mahasiswa di bidang minat bakat bisa tergali dengan baik”, tambah Supardjo.

Dalam dua setengah jam, agaknya Oase berhasil membawa penonton terbang ke Timur Tengah, melihat visualisasi nabi Sulaiman secara nyata. Bukan sekadar gambar di buku cerita. Latihan dan persiapan selama 5 bulan nampaknya tidak sia-sia mereka lakukan. “Suguhan yang apik dan memuaskan”, begitu kata Hani, penonton yang jauh datang dari IAIN Salatgia.

%d blogger menyukai ini: