• Shufa Kaligrafi China Berusia 6000 Tahun

Fitri Rahayani (25) menyempatkan diri menyambangi aula gedung UPTP2B Universitas Sebelas Maret pada Selasa (17/11) lalu. Di sela-sela kesibukannya mengajar Bahasa Mandarin di SMA Negeri 1 Wonogiri, Fitri tak segan datang dan mengajak dua muridnya yang memiliki ketertarikan di bidang kebudayaan Tiongkok untuk mengikuti workshop dan seminar nasional Mengenal Shufa: Ragam Eksotisme Budaya China. Alumni D-3 Bahasa China yang menamatkan pendidikannya pada 2011 ini mengakui bahwa mengenal kebudayaan Tiongkok untuk saat ini sudah tak kalah penting ketimbang mengenal kebudayaan Eropa. “Tiongkok sudah menjadi pusat perdagangan dunia. Belajar saja harus sampai ke negeri China”.

Dibuka dengan menyanyikan kidung Bengawan Solo versi bahasa Mandarin oleh mahasiswa D-3 Bahasa China, acara dimulai dengan paparan gambaran umum tentang Shufa. Jean Mowen, Yosep Sugiarto, dan Wirjo Septian, tiga orang yang berusia lebih dari setengah abad sengaja diundang untuk mengisi acara dalam seminar dan workshop ini. Berbusana sama: kemeja batik merah, ketiganya yang tergabung dalam Perkumpulan Seni dan Kaligrafi Jawa Timur nampak akrab berbincang di podium. “Kami hanya penghobi Shufa, nggak mau dibilang ahli karena seorang ahli tidak cukup hanya dengan menguasai Han Zi (huruf China –red) namun juga harus tahu soal kebudayaan ”, ucap Jean. Shufa memang sebuah katarsis, lanjutnya. Dengan menekuni seni kaligrafi semacam ini biasanya orang menjadi tidak mudah stress.

Shufa merupakan seni menulis tradisional China. Dalam tekniknya, menulis kaligrafi tradisional ini memiliki keunikan dalam menentukan tebal dan tipis goresan. Secara etimologis Shu berarti tulis, sedangkan Fa berarti teknik. Sejak 6000 tahun lalu, Shufa dikenal dalam kebudayaan China. Awalnya seni menulis ini bermedia bambu, namun lama kelamaan berkembang menjadi kertas dengan beragam ukuran. Gaya kaligrafinya pun semakin berkembang. “Dulu masyarakat banyak menulis di bambu. Namun sekarang peralatan Shufa dikenal dengan Empat Mustika Kamar Belajar, yaitu Mao bi (kuas –red), kertas, tinta bak, dan batu tinta”, ucap Yosep.

Sembari memajang berbagai karakter huruf China, ketiganya menjelaskan mengenai beberapa karakter huruf. Awal perkembangan Shufa dimulai dengan huruf Zhuan Shu yang mewakili gaya kaligrafi dinasti Qim, kemudian berkembang menjadi Li Shu pada masa dinasti Han. Lalu gaya Kai Shu, Kai Shu, dan Cao Shu muncul berturut-turut.

Setelah seminar selesai, peserta diajak bersama-sama mempraktikkan Shufa dengan alat sederhana. Kuas dan tinta bak kecil. “Ya, Shufa adalah kegiatan yang menyenangkan, namun saya tidak terlalu tahu makna filosofisnya”, tutup fitri.

%d blogger menyukai ini: