• Seminar Internasional

Fanatisme Sebabkan Politik Rawan Konflik

Gerakan-gerakan politik yang dilandasi fanatisme, idealisme, dan perbedaan pemahaman keagamaan biasanya rawan konflik, baik itu konflik sosial ataupun konflik berbasis agama. Demikian disampaikan Prof. Dr. Ahmed Elsawry Elsawry Abdelrahem dalam seminar Isu-Isu Kontemporer Kebahasaan, Kesusastraan, dan Kebudayaan, yang diselenggarakan Research Group Bahasa dan Sastra Arab, Jum’at (30/10). Selain Ahmed Elsawry Elsawry Abdelrahem yang juga Guru Besar Filsafat serta Budaya Arab dan Islamdi Universitas Canal Suez, Mesir; hadir sebagai pembicara seminar itu adalah Mugijatna, PhD dari Universitas Sebelas Maret, dan Prof. Dr. Syamsul Hadi, dari Universitas Gadjah Mada.

Senada dengan Abdelrahem, Mugijatna mengupas inkulturasi budaya pascakolonial. Munurut Mugijatna, yang mengamati proses inkulturasi ini melalui karya sastra, terjadi inkulturasi budaya penjajah terhadap budaya lokal.

Sementara itu, Syamsul Hadi lebih menyoroti perihal pembentukan istilah kebahasaan dalam Bahasa Arab yang mempengaruhi proses penerjemahan. Pembentukan istilah tersebut salah satunya dapat dilihat dari segi morfologi dan sintaksis.

Jurusan Sastra Arab sudah menjalin kerja sama dengan MAN Karanganyar dan MAN 1 Surakarta sebagai mitra pengabdian, untuk itu kami mengundang mereka dalam seminar ini sekaligus mempererat jalinan kerja sama yang berkelanjutan, ujar Muhammad Yunus, salah satu dosen Program Studi Sastra Arab

Yunus menambahkan bahwa Prodi Sastra Arab sudah menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Mesir, salah satunya dengan Universitas Canal Suez. “Nantinya kita akan membuat portal untuk tulisan-tulisan yang berkaitan dengan kebudayaan Arab maupun Budaya Indonesia, sehingga masyarakat dapat lebih memahami budaya tersebut. Kami juga akan melakukan penelitian kolaboratif. Jadi wadah kerja sama memang mutlak dibutuhkan”, tutup Yunus.

%d blogger menyukai ini: