Dalam mengajarkan bahasa, guru juga harus mampu mengajarkan kepekaan sosial, sehingga siswa belajar menangkap isu-isu sosial dan bahkan mencari pemecahannya. Demikian disampaikan Riyadi Santosa, Dekan Fakultas Ilmu Budaya ketika membuka One-day Workshop on Improving Students’ Learning Outcomes with Service Learning and Critical Thinking through ITdi D’ Wangsa Hotel Surakarta, Sabtu (20/5). Hadir sebagai fasilitator workshop ini adalah Sean Stellfox dan Jeanie Cook. Keduanya dalah English Language Fellows dari Amerika

Workshop ini diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris bekerjasama dengan RELO (Regional English Language Office), suatu unit di bawah Kedutaan Amerika.  Workshop diikuti oleh puluhan guru bahasa Inggris tingkat SLTA maupun perguruan tinggi dari Surakarta, Semarang, Purwokerto, Pemalang, dan Yogyakarta.

“Ketrampilan berbahasa itu melibatkan ketrampilan-ketrampilan lainnya sehingga tingkat literasinya meningkat; supaya siswa mampu menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi informasi yang mereka terima. Ini hal yang masih perlu kita tingkatkan,” tambah Riyadi yang juga Guru Besar bidang linguistik ini.

Sementara itu, Ardianna Nuraeni, ketua panitia menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan tentang “service learning” dan keahlian berpikir kritis (critical thinking), yang merupakan dua topik penting dalam proses pembelajaran. “Service learning” merupakan salah satu metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kepekaan sosial pembelajar tentang problema yang terjadi di masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya.

”Antusiasme peserta workshop merupakan indikasi positif bagi kami untuk mengadakan berbagai workshop dalam meningkatkan profesi dan kompetensi pengajar bahasa Inggris. Kami siap mengadakan kegiatan serupa secara rutin di masa yang akan datang,” tambah Ardianna

%d blogger menyukai ini: