Program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya hadirkan pakar dari Universitas Koln Jerman, Edwin P. Wieringa untuk mengisi kuliah umum “Perkembangan Kajian Filologi Melayu dan Studi Islam di Jerman” di ruang seminar, Jumat (16/3). Kegiatan ini merupakan satu dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan untuk menyambut Dies Natalis UNS ke 42. Filologi merupakan ilmu yang mempelajari bahasa melalui sumber sejarah yang ditulis atau naskah. Naskah merupakan warisan budaya leluhur sebagai identitas atau ciri khas sebuah bangsa. Filologi berfokus pada teks, dalam bentuk naskah, buku cetakan, juga sastra lisan.

Kuliah umum ini juga bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pembekalan kepada seluruh mahasiswa khususnya program studi Sastra Indonesia mengenai perkembangan keilmuan utamanya kajian filologi Melayu dan studi Islam. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa Prodi sastra Indonesia terutama yang memilih Filologi tidak merasa ragu akan pilihannya juga memberikan gambaran yang lebih komprehensif bagi mahasiswa Sastra Indonesia di semester-semester sebelumnya agar lebih memahami mengenai bidang filologi khususnya filologi Melayu.

Dalam sambutan pembukaannya Dekan FIB Riyadi Santosa mengatakan, “Kajian filologi merupakan salah satu aspek untuk melihat identitas bangsa kita melalui karya-karya yang sudah ditulis oleh nenek moyang kita dulu yang berusaha untuk mengungkapkan identitas diri bangsa kita. Hal ini penting bagi pembangunan sekarang ini supaya kita bisa melihat identitas bangsa ini yang baik dan tidak bercampur aduk dengan identitas Barat.”

Kegiatan yang berlangsung dari pagi sampai dengan siang hari tersebut dihadiri oleh dua ratus peserta, baik kalangan akademisi maupun sivitas akademika FIB.

Narasumber Edwin P. Wieringa adalah Profesor Filologi Indonesia dan Kajian Keislaman dari Universitas Koln Jerman. Beliau membahas tentang Kajian Islam di Jerman dan Barat pada umumnya. Ada kerangka Islam di Indonsia, di setiap tradisi atau budaya, sedangkan di dunia Barat hal seperti itu tidak ada. Pada abad ke-21 ada pemisahan yang sangat tajam antara agama dan negara yaitu tidak boleh menunjukkan tanda-tanda yang berunsur keagamaan. Membicarakan tentang hal Islam tersebut harus menganut Islam.

Dalam paparannya Edwin P. Wieringa mengatakan, “Teori dan metodelogi filologi tidak hanya untuk mempelajari naskah kuno saja tetapi bisa diterapkan untuk Sastra Jawa atau Indonesia modern. Jadi banyak varian dan makna yang dapat dibandingkan sebagai suatu proses kreatif. Ilmu filologi juga bisa dimanfaatkan untuk sastra dan Bahasa, tidak hanya tentang naskah kuno saja, jadi jauh lebih luas.”

“Perbedaan filologi di Indonesia dan Barat ialah masih adanya peran masyarakat mengenai makna naskah sebagai filsafat yang tinggi tentang kearifan setempat untuk pembangunan karakter, sedangkan filologi di Barat mencari pendekatan mengapa naskah itu ditulis, asal naskah, kapan ditulis, dan diciptakan karena apa?” lanjutnya.

Sebagai penutup, RR. Cattri Sigit Widyastuti selaku Kaprodi Sastra Indonesia mengungkapkan “Diadakannya kuliah umum ini diharapkan agar seluruh mahasiswa terbuka mata dan hatinya dan tidak ragu-ragu lagi memilih Prodi Sastra Indonesia sebagai tempat menimba ilmu bahkan merasa bangga filologi sudah mendunia dan menggugah mahasiswa untuk belajar lebih giat dalam menekuni ilmunya terutama filologi karena studi filologi tidak hanya dipelajari di Indonesia saja tetapi sudah mendunia”.

%d bloggers like this: