Forum dan pertemuan bagi sesama lulusan prodi Sastra Indonesia sangat diperlukan karena selain untuk memperoleh database alumni yang akurat juga penting bagi pengembangan institusi. Mengembangkan peluang  jejaring kerjasama dalam bidang akademik dan non akademik sangat diperlukan mengingat perkembangan keilmuan dan lapangan pekerjaan semakin luas.

Untuk mendukung kepentingan tersebut, prodi Sastra Indonesia menggelar reuni akbar dengan tema “Aku Pulang untuk Kita”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut(22-23/4) merupakan kerjasama antara Ikatan Alumni Sastra Indonesia (IKASINDO) dan Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNS.

Ketua IKASINDO, sekaligus Wadek Bidang Umum dan Keuangan, Dwi Purnanto dalam sambutannya mengatakan, “Sebagai lulusan Sastra Indonesia minimal bisa menghayati kebahagiaan dalam hidup, alumni dari Sastra Indonesia  bertebaran di mana-mana dan profesinya apapun, kuncinya bagaimana membangun silahturahmi supaya ke depannya, kemanapun kita berada ada alumni Sastra Indonesia.”

Tidak kurang dari 200-an orang hadir dalam reuni akbar tersebut. Para alumni datang dari berbagai  kalangan yakni akademisi, peneliti, pemangku jabatan, praktisi, dan pengusaha tersebut dikemas dalam dua bentuk kegiatan yakni seminar nasional dan temu kangen keluarga besar IKASINDO. Tujuan diadakannya acar ini adalah untuk memperoleh dukungan dan partisipasi alumni dalam rangka upaya perbaikan kurikulum dan persiapan re-akreditasi prodi pada Oktober nanti.

Banyak narasumber didatangkan untuk mengisi acara seminar pada hari pertama tersebut. Salah satunya, Prof. Dr. Kisyani, M.Hum (alumni ’81). Beliau adalah pakar Dialektologi, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Negeri Surabaya. Tema yang diambil adalah “Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional Peluang dan Tantangannya Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Bahasa Indonesia masih menyimpan banyak kelemahan yang harus segera dikuatkan secara bertahap. Pengenalan kosakata baru lewat berbagai jejaring sosial dapat lebih diberdayakan (pemberdayaan internet untuk diplomasi kebahasaan)”, kata Kisyani.  “Semoga hal itu dapat terwujud menjelang Bahasa Indonesia berusia seabad pada tahun 2028 dan Bahasa Indonesia akan semakin bermartabat,” lanjutnya.

Sementara Ketua KAFIB, Dwi Hastuti mengungkapkan, “Dengan reuni ini alumni dapat  berkontribusi bagi fakultas dan membuat FIB bisa dikenal baik secara nasional maupun internasional, serta mampu go internasional.”

Harapan kita bersama, alumni tidak hanya menjadi wilayah prodi tetapi menjadi satu kesatuan IKA UNS ”Ke depan keberadaan alumni akan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam rangka mewarnai kredibilitas sebuah perguruan tinggi,” ungkap Supardjo, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FIB.

%d blogger menyukai ini: