Dewasa ini mulai tumbuh subur kesadaran di kalangan sivitas akademika akan arti penting keberadaan  Museum Kampus. Museum tak lagi dipandang sebagai gedung tua penyimpan koleksi kuno, melainkan sumber data untuk keperluan studi dan bukti inovasi yang sudah dikembangkan. Museum Kampus semakin dimaknai lebih dari “jejak sejarah” kampus yang bersangkutan, melainkan juga sebagai “jejak peradaban” bangsa.

Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UNS kembali menggelar Museum Goes to Campus 4 (MGtC) dengan mengusung tema Keberagaman sebagai Dinamisator Peradaban di gedung Auditorium GPH Haryo Mataram UNS, Selasa-Jumat (29-31/10/2019).

Adapun tema MGtC ke-4 ini terinspirasi oleh pidato Rektor UNS Prof. Jamal Wiwoho pada acara Student Vaganza di Stadion UNS (18/08/2019) yakni, “Keberagaman harus menjadi dinamisator dalam memacu tumbuhnya inovasi-inovasi baru, yang membawa bangsa ini sejajar dengan negara-negara maju lain. tinggalkan pemikiran-pemikiran sempit, radikal, dan selalu merasa dirinya paling benar, karena bertentangan dengan Pancasila dan hakekat kerukunan umat manusia.

MGtC ini sebelumnya telah diadakan tiga kali berturut-turut, yakni pertama kali pada bulan Nopember 2016, MGtC ke-2 September 2017, dan MGtC ke-3 Oktober 2018. Dan MGtC ini sudah menjadi agenda tahunan dari UNS dan Pemerintah Kota Solo yang bagian aktrasi wisata .

Dalam laporan dihadapan tamu dan undangan yang hadir Insiwi Febriary Setiasih ketua MGtC 4 mengungkapkan, “Tujuan pameran adalah mendekatkan nilai-nilai sejarah ke tengah masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya. Melalui MGtC, masyarakat lebih mudah memperoleh akses dan informasi serta pengetahuan tentang museum, warisan sejarah, kekayaan  budaya, dan nilai-nilai kebangsaan.”

Sementara Jamal Wiwoho selaku Rektor UNS mengatakan, “Museum  adalah salah satu sarana pembelajaran yang ideal dan saya mengapresiasi khususnya FIB yang nguri-uri, keberlanjutan dari pameran MGtC yang ke-4 ini. Semoga kegiatan ini kedepannya terus berkelanjutan dan akan banyak memberi semangat kepada setiap generasi muda.

Harapan kita semua, pengunjung pameran ke depan bukan hanya dari tingkat SD sampai Sekolah Menengah Atas, namun juga kita dorong mahasiswa kita pergi ke museum.

Pameran MGtC merupakan salah satu upaya UNS menyematkan ciri sebagai kampus berwawasan kebudayaan dan meneguhkan prinsip sebagai kampus “Benteng Pancasila”. Lebih jauh, melalui Pameran MGtC, UNS berupaya ikut serta merealisasikan UU Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan berpartisipasi memperingati Hari Museum Indonesia, 12 Oktober.

Kegiatan selama tiga hari ini bukan hanya pameran koleksi museum belaka. Serangkaian kegiatan pendukung menyertainya, seperti seminar sejarah/permuseuman, workshop, lomba dongneng nusantara. Berbagai kegiatan ini sebagai upaya mendekatkan generasi millennia kepada museum. Selengkapnya terperinci sebagai berikut :

  1. Seminar Pustaka Para Cendekia dan Nasionalisme, Selasa (29/10/2019) di Ruang Sidang II Rektorat
  2. Workshop Metode Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai-Nilai Kebhinekaan, Rabu (30/10/2019) di Ruang Seminar FIB
  3. Workshop Perawatan Arsip Keluarga, Rabu (30/10/2019) di Panggung MGtC
  4. Lomba Dongeng Keberagaman Nusantara, Kamis (31/10/2019) di Panggung MGtC
  5. Dolanan Tradisional Ramah Lingkungan Membangun Kebersamaan, selama pameran MGtC
  6. Workshop Membatik, selama pameran MGtC oleh Musem Samanhoedi
  7. Game Interaktif, selama pameran MGtC

Secara keseluruhan kegiatan berlangsung dengan baik dan banyak pengujung yang mengapresiasi, ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung yang menghadiri MGtC selama pameran sejumalah 3800-an dari 28 peserta pameran museum/lembaga dari berbagai kota diantarnya museum Lokabudaya Universitas Cenderawasih Papua, Museum Pendidikan Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta, Museum Keris Nusantara, Museum Kambang Putih Tuban, Museum Bung Karno Blitar, Museum Penerangan Jakarta, Perpustakaan Nasional R.I, Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, Confusius Institute UNS dan masih banyak lagi.

%d bloggers like this: