Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya kembali menggelar kegiatan Museum Goes to Campus (MGtC), Selasa-Minggu, 23-28/10/2018). MGtC adalah  pameran bersama  sejumlah museum yang diadakan  di  Auditorium Universitas  Sebelas  Maret. Kegiatan ini juga merupakan agenda kebudayaan yang menjadi calender event yang diselenggarakan di Kota Surakarta. Adapun tema yang diangkat kali ini adalah “Perdagangan dan Perkembangan Kebudayaan”. Kegiatan yang berlangsung selama 14 hari tersebut berlangsung di Auditorium UNS. Diikuti oleh tigapuluhan museum di Indonesia antara lain Museum Nasional, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum D’Topeng Kingdom Group, Museum Sandi, selain itu juga laboratorium Sejarah Prodi Sejarah FIB, Laboratorium Sejarah FKIP UNS, Laboratorium Sejarah Univet dan masih banyak lagi.

Tiwuk Kusuma Hastuti, Kaprodi Ilmu Sejarah dan sekaligus panitia kegiatan mengungkapkan,”Kegiatan MGtc ini merupakan kegiatan tahunan, dan ini tahun penyelenggaran yang ke tiga kalinya. Tujuan kami antara lain untuk memberikan akses pengetahuan seluas-luasnya bagi masyarakat umum mengenai museum-museum yang tersebar di Indonesia. Banyak kekayaan budaya yang tersimpan dalam museum-museum tersebut dan belum diketahui oleh khalayak umum.”

“Sekaligus upaya konkrit kami untuk mendukung program pemerintah di bidang penguatan mental dan karakter kebangsaan sekaligus langkah menguatkan ciri kultural pada UNS sebagai kampus berwawasan kebudayaan,” lanjut beliau di sela-sela kegiatan.

MGtC  memiliki  pemikiran  tentang  arti  penting  edukasi  nilai-nilai  sejarah, permuseuman, dan cagar-budaya khususnya untuk generasi muda. Museum adalah sarana edukasi, informasi dan rekreasi  yang  relatif  lengkap.  Koleksi-koleksinya  merupakan  bagian  dari  memori  kolektif  bangsa  yang  perlu disosialisasikan  secara  berkesinambungan.  MelaluI MGtC  “rekaman  sejarah”  dipresentasikan  dengan  cara  yang edukatif dan inovatif sehingga lebih menarik.

Museum Bank Indonesia menampilkan koleksinya berupa uang kerajaan Mataram kuno, uang revolusi, uang masa perdagangan dan satu emas replika batangan seberat 13kg. Serta membawa replika kapal Jung Jawa, Museum Bank Mandiri membawa peta perdagangan dari berbagai periode.

Sementara Museum Sandi menampilkan koleksi mesin Sandi Kryha Standard dan Telegraf.

Penjaga stand pameran yang juga petugas museum secara kreatif mengajak diskusi dan dialog interaktif pengunjung, khususnya pengunjung dari SMA/SMK di Surakarta. Dialog interaktif ini untuk menguji  tingkat pemahaman generasi muda terhadap nasionalisme, sejarah bangsa, serta apresiasi mereka terhadap seni dan kebudayaan. Bagi siswa yang berhasil menjawab disediakan souvenir cantik.

Kegiatan ini berlangsung lancar dan dihadiri oleh masyarakat umum meliputi pemerhati sejarah, SMA/SMK di Surakarta dan sekitarnya, civitas akademika dan masrarakat umum. Selain pameran di Auditorium Prodi Ilmu Sejarah juga menyelanggarakan kegiatan pendukung seperti seminar permuseuman, seminar sejarah, talk show bersama museum bank Indonesia, workshop, bedah buku, dan perlombaan fotografi, dan dongeng.

Riyadi Santosa selaku Dekan FIB sekaligus penanggung jawab umum, berharap MGtC dapat semakin mendekatkan masyarakat pada warisan budaya yang dapat dijadikan sebagai insight di masa kini. Museum sebagai representasi warisan kesejarahan di masa lampau merupakan cerminan jati diri kita sebagai bangsa, sekaligus sebagai referensi kehidupan yang lebih baik di masa-masa yang akan datang.

%d bloggers like this: