Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS berhasil meraih juara satu National Speech Competition bertemakan “How Youth Face Social Humanities Issues and Challenges” dalam ELD Festival 2019 yang diselenggarakan ruang Teater Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu-Minggu (20-21/12-2019).

Hasil membanggakan tersebut berhasil diraih oleh Muthia Putri Meilania, mahasiswi Prodi Sastra Inggris angkatan 2017. Dalam babak penyisihan Muthia membawakan pidato berjudul Let’s Pop The Bubble! untuk subtema The Role Of Artificial Intelligence (Ai) In Today’s Generation dan   Make The Disruptive Ideology Not Disruptive dalam babak final.

Topik tersebut dipilihnya karena dia beranggapan bahwa perkembangan teknologi pada saa ini menjadi  bukti perkembangan manusia namun pada saat bersamaan juga menjadi masalah baru yang tidak disadari oleh masyarakat Indonesia, terutama para pemuda sebagai generasi yang paling akrab dengan hal ini.

“Banyak yang tidak menyadari bahwa filter bubble merupakan ancaman untuk persatuan bangsa. Saya merasa harus memperingatkan teman-teman soal itu,” ujar Muthia saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (26/12/2019).

Fenomena filter bubble memiliki dampak jangka panjang pada diri masyarakat jika tidak segera disadari, “Kita memang tidak bisa melihatnya secara nyata, tetapi dampaknya akan terasa jika kita masih diam saja dan tidak menyadarinya,” lanjut Muthia.

Dalam kompetisi tersebut, Muthia bukan merupakan satu-satunya mahasiswa FIB yang mewakili UNS. Mohammad De Syaeful, mahasiswa D3 Bahasa Inggris juga berhasil lolos ke final dan mendapatkan juara ke-empat setelah membawakan pidato dengan tema Tolerance in Multiculturalism.

Meskipun bersaing dalam kompetisi tersebut, sebagai sama-sama perwakilan dari UNS, Muthia dan Syaeful berlatih bersama untuk mempersiapkan penampilan mereka.

“Saya dan Syaeful memang beberapa kali berlatih bersama sebelum kompetisi dan saling memberi masukan satu sama lain agar performa kami maksimal. Meskipun kami juga bersaing untuk memenangkan kompetisi itu, kami tidak khawatir karena kami memiliki gaya dan keunikan kami masing-masing dalam berpidato.” terang Muthia.

Muthia menambahkan, senada dengan dirinya dewan juri pun berpendapat bahwa setiap peserta memiliki keunikan masing-masing dalam pidatonya. “Meskipun saya mendapatkan skor yang cukup tinggi dalam kriteria penilaian yaitu konten naskah dan performa, bukan berarti yang lain kurang bagus. Saya yakin setiap peserta memiliki keunikannya masing-masing dalam berpidato, dewan juri pun bilang seperti itu saat penyampaian komentar.” ujarnya.

Dengan berhasil mengalahkan peserta dari berbagai daerah lain, Muthia berharap supaya ini menjadi motivasi bagi mahasiswa UNS untuk terus berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional.

“Alhamdulillah, suatu kebanggaan bisa mewakili Sastra Inggris FIB UNS di kompetisi tingkat nasional. Saya berharap hal ini dapat memotivasi teman-teman yang lain untuk tidak takut berkompetisi dengan pemuda-pemuda lainnya di luar sana dan tidak mudah menyerah untuk terus berprestasi. Kita bisa kok!” ujar Muthia. Kompetisi nasional ini dikuti oleh beberapa univeristas di Indonesia diantaranya UIN Syarif Hidayatullah, ISIP, UNJ, UI, UNPAD, UMJ, UNEJ, dan Univ Mercu Buana.

%d bloggers like this: