Penguasaan Bahasa Mandarin belakangan ini semakin diperlukan, terutama untuk dunia bisnis. Karena itu, mahasiswa D-3 Bahasa China tidak perlu khawatir. Prospek kerja mereka sangat cerah. Demikian disampaikan Lukito Sindoro ketika menyampaikan kuliah umum kepada mahasiswa Program Diploma Bahasa China, Fakultas Ilmu Budaya UNS, Jum’at (8/5).

Lukito, yang juga dikenal dengan Liauw Yang Sin, adalah salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Pada tahun 1970an, bersama beberapa pengusaha lainnya ia mendirikan Kospinjasa, sebuah koperasi simpan pinjam yang kantor cabangnya sekarang tersebar di Sumatera dan Jawa. Menurut Lukito, bahasa Mandarin saat ini telah menjadi bahasa pergaulan dalam dunia bisnis. Penguasaan Bahasa Mandarin akan lebih memperlancar urusan bisnis.

“Saat ini banyak orang-orang Tiongkok berinvestasi di Indonesia. Minimal, mereka membutuhkan guide dan penerjemah yang menguasai Bahasa Mandarin. Jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun,” kata Lukito.

Dalam kuliahnya, Lukito juga memberikan tip belajar bahasa Mandarin.

“Mulailah dengan lagu. Menyanyi. Dengan menyanyi, anda sambil belajar melafalkan kata-kata bahasa Mandarin,” jelasnya.

Ditanya tentang anggapan masyarakat bahwa bahasa Mandarin masih dipandang sebelah mata, Lukito mengatakan bahwa mahasiswa harus mampu mengubah anggapan itu menjadi pelecut untuk belajar lebih giat lagi. Mahasiswa mestinya harusnya senang menerima ejekan seperti itu. “Justru pujian yang berpotensi melenakan dan membuat sombong, sehingga tidak mau belajar lagi,” tambahnya lagi.

Mahasiswa Bahasa Mandarin harus bangga, tidak perlu nglokro. Lha wong gaji yang diterima guide dan penerjemah Bahasa Mandarin itu malah di atas rata-rata gaji penerjemah bahasa lain, kok,” tandas Lukito di depan mahasiswa.

Kuliah Umum yang berlangsung dua jam itu banyak diselingi tanya jawab, bukan hanya tentang penguasaan bahasa Mandarin tetapi juga tentang pengetahuan-pengetahuan unik lainnya tentang budaya Tiongkok. Misalnya, Lukito juga bercerita filosofi garis tangan (palmistry) yang jika terbuka ada enam garis: garis hidup, cerdas, cinta, kawin, nasib dan kesuksesan. Ketika tangan digenggam, semua garis itu tertutup. Artinya, keenam perkara itu ada dalam genggaman kita.

Tidak hanya berdiskusi dengan mahasiswa, Lukito juga menawarkan beasiswa bagi mahasiswa Diploma Bahasa China UNS untuk melanjutkan studi sarjana maupun magister di Tiongkok.

“Kami sangat berterimakasih atas tawaran beasiswa ini. Setelah ini kami akan melakukan seleksi untuk mendapatkan mahasiswa yang akan dikirim ke Tiongkok,” kata Endang Tri Winarni, Ketua Program Studi D3 Bahasa China FIB UNS.

%d blogger menyukai ini: