Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Kerja Teater Tradisional (UKM KKTT) Wiswakarman menggelar pentas Laborat dengan mengusung lakon Erucakra, berkolaborasi dengan BKKT UNS dan UPKD FKIP UNS di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Kamis (20-06-2019). Pentas dihadiri kurang lebih 150 pengujung baik dari kalangan pelajar, akademisi, dan pencinta seni budaya dari sekitar Soloraya, memenuhi Teater Arena TBJT.

Pentas laborat adalah salah satu agenda pentas tahunan Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Kerja Teater Tradisional (UKM KKTT) Wiswakarman yang diselenggarakan untuk mengasah bakat serta kemampuan mahasiswa baru yang tergabung dalam (Unit Kegiatan Mahasiswa) UKM yang berbasis teater tradisional di Fakultas Ilmu Budaya UNS. Pada kesempatan kali ini Wiswakarman berkolaborasi dengan UKM lain yang berbasis seni tradisi di Universitas Sebelas Maret yaitu UKM Badan Koordinasi Kesenian Tradisional (BKKT) UNS dan Unit Pengembangan Kesenian Daerah (UPKD) FKIP UNS.

Pentas yang didukung oleh tiga UKM seni tradisi di UNS ini disutradarai oleh Kukuh Setya Widodo yang juga sebagai penulis naskah. Pentas ini mengambil judul sama dengan judul naskahnya yaitu “Erucakra”. Erucakra, sebuah simbol harapan yang diramalkan akan ada akibat sebuah perubahan tatanan. Bercerita tentang kurun waktu 1820-an, di mana Kasultanan Yogyakarta mengalami perubahan, baik dikarenakan perubahan yang bersifat intern maupun juga ekstern. Contoh yang bersifat intern adalah para Nayaka Praja dari sebagian raja tidak lagi mengikuti tatanan keraton dan juga agama. Sedangkan yang bersifat eksternal yakni intervensi Residen Yogya yang jauh dari tatanan lama.

Harapan baru muncul dengan hadirnya R.M. Antawirya atau Pangeran Dipanegara dari Tegalreja sosok Erucakra yang diramalkan oleh masyarakat yang akan menjadi pahlawan perubahan.

Ada tiga Pesan utama yang ingin disampaikan dalam pentas “Erucakra” ini. Pesan pertama yaitu Sapa Nandur Bakal Ngundhuh, yang berarti siapapun yang menanam pasti akan menuai buahnya. Pesan yang kedua yaitu Aja Grusa- grusu, jangan terlalu over dalam mengerjakan atau menginginkan sesuatu, jika terlalu maka hasilnya akan kacau. Adapun yang ketiga adalah Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, segala kejahatan pasti akan kalah dengan rasa welas asih. Kisah ini bisa disandingkan dengan proses pemilihan presiden yang baru saja dilaksanakan masyarakat yang menginginkan pemimpin yang adil dan mengayomi masyarakat.

Pentas ini diharapkan dapat mempererat hubungan baik antar UKM seni tradisi yang ada di Universitas Sebelas Maret. Harapan lain agar kegiatan positif ini dapat berkelanjutan sehingga akan lahir pentas-pentas kolaborasi selanjutnya.

Henry Yustanto selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni mengatakan, “Pentas ini sebagai langkah awal kolaborasi antarorganisasi mahasiswa di UNS yang kedepannya diharapkan akan terus berlangsung secara positif.”

Senada dengan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dekan FIB Prof. Warto mengatakan, “Pentas ini membuktikan bahwa generasi milineal masih memiliki kecintaan akan seni tradisi. Pentas ini sebagai bentuk dari cinta budaya generasi milinial. Selain itu pentas ini juga sebagai bentuk kerjasama antara organisasi yang telah tergabung sangat kompak, sebagai bukti untuk menghasilkan karya luar biasa.”

%d bloggers like this: