Melihat perkembangan musik dan film pada era sekarang ini sangatlah membanggakan. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya film yang diciptakan oleh para produser Indonesia demi menyeimbangi aksistensi film dari luar negeri yang kualitas filmnya tidak bisa diremehkan dan mampu membuat pecinta film Indonesia lebih senang menonton film dari luar dibanding film lokal. Oleh karena itu, sebagai generasi muda pecinta film harus mampu menciptakan film yang berkualitas agar tetap dapat bersaing di perfilman internasional dan dapat dinikmati oleh pecinta film di seluruh dunia.

Dilatarbelakangi oleh hal tersebut diatas, Komunitas Musik dan Film Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (KMF) mengelar “Bedah Karya” dengan judul “Implementasi Sisi Sosial pada Karya”. Bedah Karya dari My Picture dengan judul film “Kayu Rantai Terkunci” dan “Piece of Paper” dengan narasumber Prajanata B (Cinematography), Frisma Fani R (Pemeran Piece of Paper) dan Naufal Yusa A (Ketua My Picture). Kegiatan sehari, Jumat (31/3) tersebut dalam rangka memperingati hari musik dan film nasional yang jatuh pada bulan Maret ini. Kegiatan yang berlangsung di Ruang 307 gedung I tersebut bertujuan :

  • Mengapresiasi para pecinta film yang telah menciptkan karya-karyanya untuk dipersembahkan serta menumbuhkan minat cinta pada film lokal.
  • Mengajak publik untuk berpikir kritis dalam menyikapi film-film yang berkembang di Indonesia, khususnya film-film komunitas yang bertema sosial.

Selain berbicara masalah musik, KMF juga memberikan apresiasi bagi perkembangan musik di Indonesia, munculnya berbagai jenis musik dan band-band papan atas ataupun indie, menyebabkan musik-musik di Indonesia semakin berkembang.

Nanda Ardianto selaku ketua panitia mengungkapkan, “Harapannya kegiatan ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi anggota KMF menjadikan agenda rutin program kerja KMF dan masyarakat untuk lebih mengembangkan mengali karya-karya lokal”.

%d blogger menyukai ini: