Tradisi teater sudah ada sejak dulu dalam masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dengan adanya teater-teater tradisional di seluruh wilayah tanah air. Namun perkembangannya, teater di Indonesia mengalami pasang surut, begitu pula di Solo dan sekitarnya. Dalam beberapa periode, teater di Indonesia mengikuti paradigma yang mengacu pada identitas wilayah tempat dimana teater dan seniman itu tinggal. Teater yang tinggal di suatu tempat hanya mengikuti identitas masyarakat dan tempat yang ada tanpa mengembangankan “kedirian” sebagai subjek. Klaim masyarakat yang majemuk, menjadi arus yang tidak dapat didialogkan dengan klaim individual ataupun komunal.

Dilatar belakangi oleh fenomena diatas, maka HMP Laras Pandawa Prodi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya ikut andil dalam acara pentas seni dan teater di Arena Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Senin (27/3).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut hari teater dunia yang jatuh pada tanggal 27 Maret 2017, hal ini merupakan hasil kerjasama dengan Solo_log community. Tema yang diambil yakni “Monumen Peristiwa Teater”. Setidaknya 27 kelompok teater di wilayah Jateng, Jatim dan DIY yang ikut memeriahkan HATEDU tersebut. Selain sebagai alternative sharing dan komunikasi antar pelaku teater dan kelompok teater, ajang ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang perkembangan seni diluar Soloraya.

“Semoga event ini mampu memberikan solusi dan sebagai wadah history kepada para pelaku teater untuk dapat meningkatkan proses kreativitasnya dalam penuangan ide dan gagasan tentang seni teater”, kata Wadek Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Supardjo yang hadir dalam acara tersebut.

Secara terpisah, Muhammad Rofiuddin, salah satu personil Laras Pandawa mengatakan, “Diharapkan ini sebagai wadah regenerasi bagi Laras Pandawa. Walaupun baru dibentuk, namun personilnya sebentar lagi lulus”. Dengan event ini semoga tetap eksis mempertahankan kesenian tradisi”, lanjutnya.

%d blogger menyukai ini: