Himpunan Mahasiswa Program Studi Forum Mahasiswa Sejarah (HMP FMS) kembali menggelar kegiatan Semarak Sejarah Kebudayaan Sebelas Maret Surakarta (SANSKERTA). Kegiatan ini berlangsung rutin setiap tahun, pada tahun ini memasuki tahun ketiga dalam pelaksanaannya. Berlangsung mulai tanggal 3-15 September 2018 di Fakultas Ilmu Budaya. Kegiatan meliputi diskusi sejarah “History Student Summit (HSS)”, Seminar Nasional, pameran buku, lomba cover lagu, fotografi, call for paper, dsb.

Ketua Panitia,  Muhammad Dandi Setiawan, mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah angkatan 2016 menjelaskan, “SANSKERTA merupakan festival sejarah yang berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan ekspresi, kreasi dan aspirasi bagi mahasiswa program studi Ilmu Sejarah, khususnya di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya dan mahasiswa sejarah di PTN/PTS di seluruh Indonesia serta masyarakat umum.”

Pada pelaksanaan perdananya, telah berlangsung kegiatan History Student Summit” atau disingkat HSS,  hari Senin (3/9/2018) di Ruang Seminar FIB. Diikuti oleh seratus limapuluhan lebih mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya.  Tema yang diangkat adalah Kuliner dan Kelas Sosial.

Tema menarik ini diangkat karena dalam perspektif sejarah, kuliner atau makanan memiliki nilai khusus yang berkaitan dengan kultur sosial masyarakat. Dahulu makanan menjadi simbol kelas sosial yang membedakan antara kelas atas (kulit putih) dengan golongan bangsawan serta golongan inlandeer (pribumi). Pembedaan penyajian makanan (ritjsttafel) menjadi bentuk tingkatan kelas sosial dan kuliner menjadi sarana diskusi untuk membahas urusan penting bagi para bangsawan.

Hadir sebagai narasumber adalah Heri Priyatmoko, alumnus Prodi Ilmu Sejarah FIB UNS sekaligus dosen Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Susanto, doktor dari Prodi Ilmu Sejarah FIB sekaligus Kepala Museum UNS. Kegiatan yang berlangsung sehari ini di moderatori oleh Bima Widiatiaga alumni Prodi Ilmu Sejarah angkatan 2013.

Dalam sambutan pembukaannya, Tiwuk Kusuma Hastuti selaku Kaprodi Ilmu Sejarah mengatakan, “Kami mengapresiasi positif kegiatan ini. Dari diskusi ini para mahasiswa juga bisa menjadikan kesempatan ini untuk melakukan penelitian sejarah dengan tema-tema baru yang masih jarang dikaji.”

“Tema baru yang memanfaatkan kearifan lokal yang ada di masyarakat dapat juga menjadi pijakan untuk penulisan sejarah.” lanjut beliau di hadapan peserta yang hadir.

Memasuki sesi diskusi, Susanto, selaku narasumber pertama mengupas tentang  “Kuliner Pesta di Jawa Abad XX: Istana Mangkunegaran”. Beliau menjelaskan, “ Kuliner di Mangkunegaran pada Abad XX sangat beragam karena merupakan perpaduan antara kebudayaan tradisional Jawa dan Eropa”.

“Masuknya kebudayaan Eropa di Mangkunegaran mempengaruhi segala bidang, seperti politik, pakaian, arsitektur dan kuliner. Jadi kuliner sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat dan kultur (budaya) yang berlaku,” lanjut beliau.

Tak kalah menariknya, Heri Priyatmo, narasumber kedua dalam kegiatan tersebut memaparkan kuliner wong cilik dalam “Daging Sapi dan Budaya Ngiras”.  Ngiras menjadi istilah saat seseorang membeli kuliner dan dimakan di tempat. Kuliner memiliki fungsi lebih, bahkan bisa menjadi sarana diplomasi meja makan, dan akan tetap lestari apabila memiliki konsumen tetap sekaligus mampu merentang dalam ruang dan waktu seperti halnya kuliner sate kere di Solo atau sate jamu.

Kegiatan diskusi ditutup dengan diskusi antara peserta dan narasumber. Diharapkan dari “History Student Summit (HSS) ini membuka wawasan dan cakrawala baru bagi mahasiswa mengenai keterkaitan antara kuliner dan kelas sosial yang pernah ada dalam masyarakat kita. Semoga menginspirasi mahasiswa untuk melahirkan tulisan-tulisan ilmiah yang mampu mengangkat kekayaan budaya yang tersebar di Indonesia.

%d bloggers like this: