Fakultas Sastra dan Seni Rupa, kini Fakultas Ilmu Budaya berencana mendirikan program studi baru. Berbagai persiapan pun dilakukan guna mewujudkan gagasan pendirian prodi S-1 Pariwisata. “Maka dari itu, Jumat tanggal 13 Nopember 2015 diadakan lokakarya yang dihadiri oleh tenaga pendidik program D-3 UPW, dosen Ilmu Sejarah, pimpinan administrasi, dan pimpinan fakultas sebagai langkah awal, namun belum diketahui kapan prodi itu bisa dibuka. Diharapkantahun 2018 program S1 Pariwisata tersebut sudah dapat menerima mahasiswa baru”, ujar kepala bagian perencanaan dan informasi Rindah Agfrie yang ditemui di ruang kerjanya.

Acara yang diadakan di Giripurna Room, Pusdiklat UNS ini dimulai sekitar pukul 13.00 WIB dengan Dr. Marimin, M.Si dari STP Bandung sebagai keynote speaker. Beliau adalah dosen, anggota senat dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata, Bandung, pernah mengenyam pendidikan Tourism Management, Hospitality, and Travel Industry. Menjelaskan tentang gambaran umum STP di awal, Marimin memberikan paparan sebagai bahan komparasi pendirian S-1 Pariwisata di Fakultas Ilmu Budaya. Anggota senat STP ini juga menjelaskan soal sistem manajemen sekolah pariwisata yang baik, termasuk jalinan kerjasama yang harus dimiliki. “Sekolah pariwisata kami memiliki banyak relasi di bidang industri, seperti Bogasari dan Unilever. Termasuk juga kerja sama dengan sekolah dan hotel secara Internasional.”

Lebih lanjut Dr. Marimin, M.Si memberikan materi tentang konsep pariwisata modern. Tourism for livelihood, pariwisata saat ini adalah sebuah pekerjaan. Maka, pengkajian ulang soal konsep studi kepariwisataan dan pergerakan wisatawan mutlak dilakukan untuk mendukung relevansinya. “Saat ini studi kepariwisataan sudah makin kompleks. Kita tidak hanya dituntut membenahi objek wisata, namun juga pembenahan dalam bidang hukum dari sisi undang-undang kepariwisataan, sosiologi kepariwisataan, dan lain sebagainya”, ujar Marimin sembari menunjukkan tayangan diagram Tourism Concept.

Dalam lokakarya ini program studi D-3 UPW sekaligus memberikan penjelasan soal branding dan sarana prasarana yang sudah mereka miliki. Tujuannya tidak lain adalah sebagai studi kelayakan pendirian prodi baru yang berpijak pada jenjang diploma yang sudah ada. Pembentukan sistem baru, kurikulum, kebutuhan laboratorium praktik dan simulasi kepariwisataan perlu dipikirkan tanpa menyimpang dari peraturan yang sudah ada. Dasar hukum mulai dari UU No 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi, termask di dalamnya adalah menyoal kapasitas dosen tetap di dalam lembaga tersebut. Pembahasan itu sampai pada PP No 4 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi dan pengelolaan perguruan tinggi yang menyebutkan bahwa universitas dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dan akademik.

Berpijak pada peraturan tersebut, Marimin memberikan rekomendasi untuk tidak menghilangkan D-3 UPW, meskipun nantinya program S-1 untuk pariwisata akan tetap dibuka. Marimin juga memberikan akternatif lain untuk membuka jenjang D-4 pariwisata, dan malah bukan program sarjana. Program diploma empat ini bisa diarahkan pada manajemen perhotelan. “Namun pada akhirnya kita tetap kembali pada niat awal sesuai arahan pimpinan fakultas untuk membuka program S-1 Pariwisata”, ujar Wakil Dekan bidang Akademik, Prof. Dr. Warto, M.Hum.

%d blogger menyukai ini: