Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mendapat kado istimewa dalam rangka lustrumnya yang kedelapan. Dua staf pengajarnya berhasil menyelesaikan studi doktornya. Mereka adalah Susanto, staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah, dan Prasetyo Adi Wisnu Wibowo, staf pengajar Program Studi Sastra Jawa.

Susanto dinyatakan lulus program doktor setelah melaksanakan ujian terbuka di Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Jum’at (15/1). Bertindak sebagai promotor dan ko-promotor adalah Prof. Dr. Djoko Suryo dan Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA. Susanto berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul, “Gaya Hidup, Identitas, dan Eksistensi Masyarakat dan Kebudayaan Surakarta 1871-1940”.

Dalam disertasinya, Susanto memaparkan perubahan masyarakat Surakarta, baik dalam hal penampilan, proses pencarian identitas, serta pencapaian eksistensinya dari 1871 hingga 1940. Susanto juga mengamati tahap terbentuknya kultur reflektif pada masyarakat majemuk Surakarta akibat modernisasi pasca pertengahan Abad XIX, hingga munculnya kanonisasi budaya kolonial di awal Abad XX.

“Terbentuk keseragaman dalam hal gaya hidup, bahasa, reorganisasi di bidang peradilan, serta agraria, tahap pencarian identitas kultural akibat praktik standarisasi, hingga pencapaian eksistensi kultural khususnya bagi komunitas Jawa di Surakarta pada 1940,” kata Susanto.

Sementara itu, Prasetyo Adi Wisno Wibowo berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul, “Kajian Stilistika Karya-karya Sastra Ki Padmasusastra Perspektif Kritik Holistik”, di depan tim penguji Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Jumat (4/12). Bertindak sebagai adalah Prof. Sumarlam, sedangkan Prof. Dr. Soepomo dan Prof. Dr. Djatmika bertindak sebagai ko-promotor.

Prasetyo menganalisis kekhasan pemakaian bahasa dalam empat karya sastra Ki Padmasusastra yaitu Serat Rangsang Tuban, Serat Prabangkara, Serat Kandha Bumi, dan Serat Kabar Angin. Selain itu, Prasetyo juga menemukan pengaruh latar sosiohistoris dan ideologi pengarang terhadap pemakaian bahasa yang digunakan oleh Ki Padmasusastra dalam empat karyanya.

“Kajian sastra lama merupakan pintu gerbang pembuka khasanah kehidupan masa lampau. Di balik ekspresi bahasa Jawa tercermin pandangan hidup atau way of life, pandangan dunia, maupun sistem pengetahuan atau kognisi masyarakatnya”, tutur Prasetyo.

Dekan FIB, Riyadi Santosa berharap,“Semoga pencapaian Pak Susanto dan Pak Prasetyo ini menambah semangat mereka untuk semakin berprestasi, dan memperkuat fakultas dalam pengembangan pengetahuan.” Riyadi menambahkan, akhir tahun 2016 ini setidaknya ada lima orang lagi yang akan menyelesaikan studi doktornya.

%d blogger menyukai ini: