• lokakarya-ptn-bh

Rabu (25/11) Fakultas Ilmu Budaya menyelenggarakan lokakarya dalam rangka persiapan PTN-BH dan percepatan langkah FIB mendukung UNS menuju world class university. Lokakarya yang bertempat di Puri Kencana Hotel Lor Inn ini dihadiri oleh seluruh dosen, pimpinan, serta pejabat di lingkungan FIB. Universitas sendiri telah mencanangkan target menjadi world class university pada 2019, sesuai dengan rencana strategis (restra) program keja dalam kurun 2016-2019. Fokusnya, menjadikan UNS masuk dalam daftar 500 perguruan tinggi terbaik di dunia. Penetapan ini menyebabkan banyak unit kerja banting tulang sesuai dengan kapasitas dan kontrak kerja yang telah disepakati bersama antara pimpinan universitas bersama pimpinan fakultas. Oleh karena itu langkah awal berupa penyamaan presepsi, brain storming,dan strategi pencapaian target lewat lokakarya ini dipandang perlu untuk dilaksanakan.

Selain itu, pada 2016 mendatang UNS akan mulai mengubah status dari yang semula PTN-Badan Layanan Umum (BLU) menjadi PTN-Badan Hukum (BH). Sudah banyak perguruan tinggi negeri di Indonesia melakukan pengubahan ini dalam dua tahun ke belakang, seperti ITS, Unhas, dan Undip. Tahun 2016 PTN yang mendapatkan mandat dari Kemenristek adalah UNS, UNBRA dan UNAN. Dengan berstatus sebagai PTN-BH universitas memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi otonomi pengelolaan secara akademik dan non akademik.   Untuk menjadi PTN-BH perguruan tinggi perlu memenuhi syarat-syarat tertentu,  diantaranya adalah peningkatan angka efisiensi edukasi, prestasi mahasiswa, dan akuntabilitas laporan keuangan.

Diskusi berbagai bidang dilaksanakan guna memperkuat pemahaman civitas akademika untuk dua tujuan di atas. Awalnya, Agus Dwi Priyanto, M.CALL, kapasitasnya sebagai tim RenBang memaparkan soal indikator world class university. Dalam mendukung hal tersebut, UNS butuh berapa, FIB mampu menyumbang berapa. Untuk itu analisis SWOT tentang kemampuan dan kelemahan FIB perlu dipahami. Harapannya, FIB mampu mewujudkan KPI yang ditargetkan tahun 2016.   Kemudian dekan FIB, Riyadi Santosa, Ph.D., menyambungnya dengan materi mengenai IKU/KPI Fakultas Ilmu Budaya tahun 2016, yang nantinya akan ditandatangani dekan dan rektor dalam bentuk pakta integritas.  Diskusi menjadi tambah menarik dengan materi oleh Prof. Dr. Warto, M.Hum. dengan bahasan mengenai strategi peningkatan angka efisiensi edukasi dan informasi dari Wadek Bidang Kemahasiswaan dan Alumni mengenai PKM. “Mohon dukungannya dalam pembimbingan penyusunan PKM, sebab mahasiswa adalah garda terdepan yang menggerakkan universitas”.

Respon positif dari seluruh elemen yang terlibat menjadi pertanda baik untuk kelancaran program berkelanjutan ini. Ke depan, urusan pembagian tugas dan penuntasan perjanjian kerja sama dengan universitas manca negara telah ditargetkan. Diskusi terakhir ditutup oleh Agus Dwi Priyanto, M.CALL mengenai Langkah Awal menulis Artikel Jurnal Internasional.

%d blogger menyukai ini: