Lulusan perguruan tinggi belakangan ini terjebak dengan upaya mendapatkan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, sehingga mereka enggan beraktivitas dengan kegiatan yang tidak berkorelasi langsung dengan nilai akademik. Hal ini disampaikan oleh Dr. Dyah Kumalasari pada Kuliah Umum “Cepat Waktu, Tepat Mutu” yang diselengarakan Keluarga Alumni Fakultas Ilmu Budaya (KAFIB), Senin (22/2). Dyah Kumalasari, alumni Program Studi Ilmu Sejarah FIB, saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Yogyakarta.

“IPK tinggi saja tidak cukup untuk mampu bersaing. Hal lain yang penting  adalah kemampuan softskill,” tutur Dyah.

Selain berbagi strategi agar mahasiswa cepat selesai kuliah namun tetap menjaga kualitas, juga berbagi pengalaman dalam memperoleh pekerjaan.

“Manajemen watu sangat penting, pasang target kapan kita harus lulus, pasang strategi ketika membuat skripsi, dan terakhir apa rencana kita setelah lulus. Bekerja di sebuah instansi atau membuat pekerjaan sendiri dengan bekal ilmu yang kita miliki. Tapi apapun pilihan kita, tetaplah berpegang pada passion, capability, optimisme dan positive thinking”, ujar perempuan dari Klaten ini.

Sementara itu, Dekan FIB Prof. Riyadi Santosa menyambut positif kegiatan kuliah umum ini. “Jalinan interkoneksi ini penting, sebagai salah satu  upaya meningkatkan Angka Efisiensi Edukasi (AEE). Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius. Bidang I FIB  terus  berupaya untuk meningkatkan AEE antara lain melalui perancangan SOP dan perbaikan kurikulum. Kerjasama alumni diharapkan mampu memberikan motivasi positif bagi mahasiswa untuk berprestasi,” kata Riyadi.

%d blogger menyukai ini: