Dolanan tradisional memiliki nilai-nilai positif untuk perkembangan psikologi anak. Demikian disampaikan Prof. Sutarno, PhD, Wakil Rektor bidang Akademik UNS pada pembukaan Festival Dolanan Tradisional di Auditorium UNS, Rabu (4/5).

Menurut Ketua Panitia Festival, Imam Sutardjo, festival ini digelar sebagai wujud kepedulian UNS, khususnya Fakultas Ilmu Budaya terhadap lunturnya kebudayaan di kalangan anak-anak. “Di era globlalisasi, perkembangan teknologi sangat luar biasa, anak-anak semakin jauh dengan kebudayaan, maka untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri, UNS mengadakan festival dolanan tradisional tingkat nasional.”

Sutarno menambahkan, “Kemajuan teknologi berimbas pada anak-anak kita, anak-anak sekarang belum bisa baca tulis tetapi sudah bermain tablet dan telfon cerdas yang kadang-kadang tidak cocok dengan budaya kita. Orang tuanya juga menginstall game yang barangkali kultur budaya dan latar belakangnya tidak selalu sesuai dengan kita. Sekarang, kita bisa temukan lagi gobak sodor, engklek, jentik, dan dolanan-dolanan lainnya. Ini memprihatinkan.”

Festival ini diikuti 14 kelompok, dua di antaranya dari kelompok home-schooling. Tampil sebagai penyaji terbaik adalah kelompok dari SD Mangkubumen 15, disusul kelompok dari SD Wonoboyo, Wonogiri dan SD Pangudi Luhur Surakarta.

%d blogger menyukai ini: