• arabic-fair

Jum’at (6/11) setelah salat Jumat, beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Qisar, Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Arab, Fakultas Ilmu Budaya UNS nampak lebih sibuk. Mereka berlalu lalang ke sana-sini, memastikan seluruh komponen acara Bedah Buku Antologi #FatwaRindu: Cinta 1001 Rindu sudah siap. Bedah buku ini merupakan rangkaian Arabic Fair yang telah berlangsung sejak 4 November lalu.

Tak lama berselang, acara pun dimulai. Candra Malik (37), sang penulis buku duduk di sisi kiri podium dengan wajah sumringah, tentu masih dengan penampilan seadanya: kemeja kotak-kotak, celana jeans, juga berkopiah dengan rambut panjangnya yang dikuncir. Ditemani seorang gitaris di sampingnya, Gus Candra, begitu laki-laki ini biasa disapa, membuka acara dengan bernyanyi: terlalu rindu terlalu// terlalu rindu// terlalu cinta aku pada-Mu// kau lebih dekat dari nadi dari darah//. “Lagu ini saya tafsirkan untuk seorang hamba yang ingin menjadi kekasih Allah”, begitu katanya.

Lagu ini agaknya cukup mengantarkan diskusi menuju Tafsir Cinta yang dilontarkan Gus Candra. Beberapa peserta nampak serius menyimak sembari menenteng buku karya sang penyair yang terkenal lewat soundtrack film Cinta Tapi Beda ini. Diawali dengan cerita masa kecilnya Gus Candra mulai menggeluti tasawuf dan sufistik yang mengilhaminya menulis puisi hingga sekarang. Sosok yang mengagumi Rumi ini pun mengamini bahwa cinta adalah sesuatu yang universal untuk mengenal Tuhan, “Para sufi mengenal Allah lewat pintu cinta, sementara kita saat ini bertuhan karena pintu hukum. Cinta adalah babak baru menuju Tuhan.”

Sesaat setelah mendengarkan penjelasan Gus Candra, salah seorang peserta mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan tentang Tuhan dan keyakinan yang berbeda. “Cinta adalah urusan hati, sementara menikah adalah urusan administrasi”, begitu Gus Candra mengumpamakan. Dengan contoh penerapan syariat Islam di Aceh, ia mengatakan bahwa satu umat saja memiliki banyak cara yang berbeda. “Ya, lebih baik kita yang belajar mengenal diri sendiri dulu”.

Sementara itu, menyoal proses kreatif, pelantun lagu Kalah Oleh Cinta dan Syahadat Cinta Ini mengatakan bahwa tak ada cara khusus. “Menciptakan lagu itu seperti ketiban. Ya, jatuh begitu saja, terus mengalir”. Yang dibutuhukan adalah kepekaan panca indra untuk membaca situasi.

Gus Candra Empat melantukan total empat lagu selama acara berlangsung, syair-syairnya tentu buah karyanya yang terrangkung dalam buku Cinta 1001 Rindu yang pada awalnya adalah kumpulan tweets @CandraMalik yang bertagar #KidungSufi.

%d blogger menyukai ini: