Bangsa Indonesia adalah bangsa yang  dikenal dengan bermacam keragaman budaya dan bahasa daerah yang tersebar di antero nusantara. Di samping perkembangan budayanya yang membanggakan, namun ada beberapa kondisi yang terkadang cukup memprihatinkan. Salah satunya adalah  kesetiaan penutur asli dalam menggunakan bahasa daerah yang dimiliki.

Indikator kesetiaan terhadap kearifan lokal tersebut di antaranya tercermin ketika masyarakat menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Terutama di daerah perkotaan, sudah jarang terdengar masyarakat sesama etniknya bertutur kata dengan bahasa daerah yang dimiliki. Mencampakkan kearifan lokal secara tidak langsung dapat melemahkan identitas dirinya sebagai anggota masyarakat etnik tertentu, identitas kenusantaraan dan ciri kebhinekaannya. Sebab budaya adalah identitas bangsa yang harus tetap dilestarikan dan dijaga bersama-sama.

Berangkat dari kondisi di atas, beberapa waktu yang lalu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat fakultas atau Lembaga mahasiswa sejenis di lingkungan fakultas yang berkonsentrasi dalam bidang seni, sastra, bahasa, dan budaya seluruh Indonesia membentuk Ikatan Lembaga Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia (ILMIBSI).  Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UNS menjadi salah satu anggotanya.

Dan pada kesempatan ini, Badan Eksekutif Mahasiswa FIB UNS mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah musyawarah wilayah III ILMIBSI, Sabtu, (24/3) di ruang Seminar dengan tema Menggali dan Melestarikan Warisan Budaya Indonesia. Kegiatan sehari tersebut diisi dengan tiga agenda utama yakni : stadium general, sosialisasi, pelantikan koordinator daerah dan penyusunan program kerja. Diikuti oleh limapuluhan mahasiswa dari perwakilan universitas di wilayah 3 yakni universitas dalam wilayah regional Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur.

Musyawarah wilayah ini merupakan agenda rutin yang dilakukan pasca kongres dan rapat koordinasi nasional yang dimandatkan kepada koordinator wilayah. Musyawarah wilayah diselenggarakan untuk menunjang program kerja koordinator pusat yang bertujuan untuk menindaklanjuti berbagai program kerja yang telah dirumuskan selain itu musyawarah wilayah merupakan wadah bertemunya perwakilan dari tiap universitas.

Riyadi Santosa, selaku dekan Fakultas Ilmu Budaya menyambut baik pertemuan ini. “Saat ini rasa cinta terhadap budaya sudah semakin luntur. Semua orang berhak dikritik, namun kritik tersebut janganlah yang hanya mementingkan suatu golongan saja. Melainkan harus mementingkan banyak orang.”

“Untuk itu sebagai mahasiswa harus jeli atau kritis dalam segala hal termasuk dengan isu-isu lokal dalam menjaga cagar budaya serta berperan aktif melestarikannya,” lanjut beliau di hadapan seluruh peserta saat membuka kegiatan tersebut.

Pada sesi stadium general diisi oleh  dua narasumber yakni Heri Priyatmoko (Sanata Dharma) dan Prasetyo Adi Wisnu Wibowo (FIB UNS). Selama kegiatan berlangsung baik, kondusif dan sangat interaktif. Para peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai upaya menggali dan melestarikan warisan budaya Indonesia. Berangkat dari kondisi yang ada, problematika dan upaya pemecahannya.

Bintar Rausyan Fikri, selaku ketua panitia berharap, “Semoga kegiatan ini memberikan tambahan wawasan, pengetahuan, masukan positif bagi kami dan masyarakat luas tentang persoalan warisan budaya, menumbuhkan jiwa peduli, pelestarian tentang warisan budaya serta pemecahan permasalahan yang ada.”

%d bloggers like this: