Fakultas Ilmu Budaya UNS kembali menerima 14 mahasiswa dari Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Malaysia dalam program Pertukaran Mahasiswa yang berlangsung selama 10 hari (6 – 15/11/2019). Hadir dalam kegiatan tersebut segenap pimpinan FIB UNS, Delkananat dan sejumlah Kepala Program Studi serta perwakilan dari mahasiswa. Program pertukaran mahasiswa ini belajar tentang kebudayaan Indonesia khususnya Kearifan lokal Jawa, yakni tembang, karawitan dan batik. Kegiatan ini sudah terjalin sejak 2016 merupakan agenda tahunan yang diadakan oleh FIB UNS dan APM UM, sebelumnya FIB mengirimkan 10 mahasiswanya ke fakultas APM UM pada bulan Oktober lalu.

Warto, Dekan FIB UNS mengatakan, “Kegiatan ini merupakan jalinan persahabatan yang sangat lama, melalui program pertukaran baik mahasiswa ataupun dosen. Berharap kedepan semakin kuat dan tidak hanya dalam waktu singkat, lain kali bisa mengambil program creadit elearning.”

Setelah penyambutan di ruang seminar gedung 3 FIB, bersama dengan perwakilan mahasiswa FIB,  mahasiswa dari APM diajak tur keliling mengenal situasi tentang fakultas dan Prodi di kampus UNS.

Selama 10 hari mahasiswa APM UM belajar tentang karawitan, nembang jawa, dan membatik. Didampingi oleh dosen-dosen yang mempunyai di bidangnya yakni:

Endang Tri Winarni (Prodi Sastra Daerah)

Sisyono Eko Widodo (Prodi Sastra Daerah)

Tiwi Bina Affanti (Prodi Kriya Seni)

Ketika hari Sabtu, mahasiswa tersebut didampingi oleh beberapa mahasiswa FIB dan staff administrasi Prodi Sastra Daerah, Gunawan Yudo Praksoso mendampingi  mahasiswa APM UM mengenal kebudayaan Indonesia di Borobudur.

Selama kegiatan di Indonesia para mahasiswa APM UM mendapatkan ilmu yang bermanfaat di bidang budaya dan seni.

Di Akhir kegiatan ditutup dengan penampilan dari mahasiswa APM UM berpuisi, nembang dengan berkolaborasi dengan mahasiswa Prodi Sastra Daerah dan ngamel di laboratorium Karawitan gedung IV lantai 4.

Naim Zakiruddin sebagai koordinator dari mahasiswa APM UM mengatakan, sangat bersyukur dan berbangga karena bisa belajar kelas batik, gamelan dan tembang. Apalagi dalam belajar alat musik gamelan Jawa tradional yang penuh dengan etika dan adat. Untuk membuat seseorang itu jadi hebat dimulai dari nol dan kemudian dijadikan sesuatu yang bermanfaat.

“Dan kita akan bawa ilmu-ilmu ini bahasa jawa di kelas tembang dan batik untuk didapat disebarluaskan ke teman-teman kami di APM UM.”lanjutnya

Sisyono Eko Widodo selaku dosen karawitan berpesan, untuk belajar karawitan kita harus memiliki sifat dan karakter kerjasama atau kebersamaan sehingga bisa menghasilkan keharmonisan ini berlaku bagi penabuh gamelan yang bisa dipraktekan dalam kehidupan kita sehari-hari.

%d bloggers like this: