Himpunan Mahasiswa Program Studi Forum Mahasiswa Sejarah (HMP FMS) Fakultas Ilmu Budaya UNS menggelar Semarak Sejarah Kebudayaan Sebelas Maret Surakarta (Sanskerta) dengan mengusung tema Mengenalkan Wajah Baru Sejarah dalam Arus Global. Tema ini dipilih untuk mengurangi rendahnya minat masyarakat mendalami sejarah dengan cara mengenalkan ‘wajah baru’ atau produk baru, yaitu melalui berbagai platform media digital. Harapannya sejarah dapat dinikmati oleh masyarakat tanpa rasa jenuh.

Kegiatan berlangsung selama lima hari ini terbagi dalam beberapa acara yakni History Student Summit, Talk Show, lomba (esai, fotografi, film dokumenter) serta closing party.

History Student Summit (HSS), Senin (23/09/2019) merupakan acara diskusi untuk mahasiswa sejarah dari berbagai universitas di Indonesia mengusung tema Sarjana Sejarah Mau Jadi Apa? Menghadirkan narasumber Apriliandi Damar P (Geschiephoria Magz, Majalah digital sejarah milik alumni sejarah angkatan 2010), Giri Susilo HJP (PT Forsa Multi Utama Solusindo) dan Sayid Basunindtyo (Komikus) di ruang Seminar FIB, Talk show di aula Pascasarjana Sabtu (28/08/2019), dan Closing Party di Argobudaya Sabtu (05/10/2019).

Wakil Dekan Bidang Akademik Tri Wiratno dalam mewakili Dekan dalam sambutannya mengatakan, “Acara ini penting karena bila saling kenal, saling tahu potensi, dan saling bertukar infomasi Pada era ini sekarang ini kita harus berkegiatan yang kreatif dan inovatif. Sejarah pada umumnya diinterpretasikan sebagai aktivitas masa lampau tetapi sesungguhnya sejarah harus ditarik ke masa yang akan datang. Jadi sekarang ini kita tidak perlu khawatir dengan disiplin ilmu sejarah karena dapat ditarik dimasa kini bahkan dimasa yang akan datang.”

Giri Susilo dalam paparannya menyoroti tentang SDM unggul perlu adanya karakter bukan hanya kepandaian akademik saja tidak adanya rasa menghormati, yang membedakan antar individu adalah pengalaman. Kita harus produktif jangan ada pencitraan. Kedua segera pahamilah kompetensi diri masing-masing sehingga pengembangannya lebih terarah. Ketiga literasi, literasi harus banyak karena literasi penting. Cari sertifikat sebagai bukti sebagai kompetensi kita. Tanpa kompetensi kita akan habis dalam persaingan.

“Tantangan akan membuat kompetensi kita naik. Apabila dimanja akan muncul impotensi. Akan sangat baik bila kita memiliki kompetensi dan berkinerja. Mari kita gali potensi kita masing-masing jangan terlalu banyak membahas kelemahan karena setiap individu memiliki kelemahannya masing-masing. Mari kita bangun mindset karena sukses adalah hak semua orang,” lanjutnya.

Kegiatan dari pagi sampai siang hari ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan di ikuti kurang lebih 150an peserta dari seluruh sivitas akademika.

Sedangkan Talk Show yang berjudul Narasikan Sejarah dan Budaya dalam Media bersama Genta, Hao, Hidayat youtubers (Kisah Tanah Jawa) dan M.F Mukti (Redaktur Historia.id) di Aula Pascasarjana, Sabtu (28/09/2019). Talk show ini menunjukkan penyajian sejarah dan budaya yang baru di dalam perkembangan dan penggunaan media.

Narasumber menyampaikan bahwa berbicara tentang sejarah bukan lagi percetakan buku, tapi sekarang sudah merambah media sosial dan di sambut baik oleh masyarakat. Sebagai contoh histiria.id dan beberapa kanal youtube . untuk mengaja konten yang berkualitas kebanyakan penulis adaah lulusan sejarah dan jurnalistik. Diharaokan mamou menyeduiakan pada masyarajat

Selanjutnya Closing Party dengan tema “Musisi Bersuara” dengan menampilkan musik hiburan diantaranya The Unpredictable, VSV, Happy Ending, Ruim, Kansas, dan Pedhepokan Kethek Singsut selain itu juga diadakan penayangan film dari hasil lomba film dari hasil lomba film dokumenter dan konser yang akan diisi oleh beberapa band yang berasal dari Solo Raya maupun dari luar Solo Raya, Sabtu (5/10/2019) di Argobudaya UNS.

Ridita Purwitasari ketua Panitia Sanskerta, berharap dari kegiatan ini, mampu menggali nilai-nilai sosial-budaya lokal dalam rangka menanamkan kecintaan terhadap muatan-muatan kultural agar sivitas akademika dan masyarakat umum mengerti bahwa lokalitas budaya perlu dilestarikan, disampung itu masyarakat diharapkan memahami bersama mengenai perubahan yang terjadi dan nilai yang terkadung di dalamnya.

%d bloggers like this: