Perguruan tinggi semestinya berperan sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai akademik dan pengetahuan. Faktanya, belakangan ini kampus dikembangkan lebih banyak untuk merespon permintaan pasar, bukan untuk kebutuhan pengembangan pendidikan dan pengetahuan. Demikian disampaikan Prof. Abdul Rahman Abdul Aziz pada seminar bertajuk “Kapitalisme Akademis dan Marginalisasi Pendidikan Tinggi di Negera-negara Berkembang” di Fakultas Ilmu Budaya UNS, Senin (3/4). Abdul Rahman adalah Dekan School of Colgis, Universiti Utara Malaysia. Hadir juga sebagai pembicara dalam seminar itu adalah Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA.

Lebih lanjut, Abdul Rahman memaparkan bahwa pergeseran paradigma proses pembelajaran dari teacher-centered ke student-centered learning sudah berhasil mendorong penciptaan suasana yang lebih inovatif. Namun demikian, perguruan tinggi dewasa ini lebih memikirkan komoditas yang mampu mendatangkan profit komersial.

“Lihat saja. Bagaimana kurikulum didesain lebih banyak untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar, baik pasar tenaga kerja, maupun komoditas produk,” kata Abdul Rahman.

Senada dengan Abdul Rahman, Andrik Purwasito juga mendorong manajamen pendidikan tinggi untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan.

“Kerjasama internasional yang belakangan ini banyak diintensifkan mestinya mampu mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan bersama. Hasil-hasil riset harus dipublikasikan agar dapat dinikmati oleh khalayak non akademisi,” papar Andrik.

%d blogger menyukai ini: